MUQADDIMAH BAB TAHLILAN DAN YASINAN.

Keberagaman bermadzhab dalam Islam nampaknya dimanfaatkan oleh orang- orang yang ingin menghancurkan Islam dari dalam sebagai senjata yang ampuh, politik adu dombapun tengah mendera umat Islam bertubi- tubi, satu kelompok yang berbeda pemahaman menyerang, mengkafirkan dan mensyirikkan suatu kelompok yang tidak sesuai dengan madzhab mereka, sementara kelompok yang diserang “terpaksa membela diri” dari serangan kelompok pertama guna menjaga dan melestarikan pemahaman mereka yang luhur. Maka umat Islam saat ini disibukkan dengan kegiatan “menyerang” dan “membela diri” dari sesama muslim. sementara kepentingan yang jauh lebih penting dari itu terbengkalai, tertinggal sangat jauh dari bangsa- bangsa kafir yang bahkan Tuhanpun tidak mereka kenal, jika terus terusan umat Islam seperti ini mudah diadu domba dan dipecah belah. Maka keruntuhan dan kehancuran Islam tinggal menunggu waktu.

 

Penulis sangat prihatin menyaksikan peperangan sesama umat Islam, peperangan antar orang orang yang bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka dan Muhammad adalah utusanNya, kenapa seakan- akan umat ini terlihat begitu fanatik dengan madzhab yang dianutnya? Sebagian besar dari saudara- saudara kita menganggap bahwa memerangi dan mensyirikkan kelompok lain yang tidak sesuai dengan pemahamannya adalah perkara mulia nan agung, berada dijalan tersebut adalah jihad, dan Surga menanti sebagai Hadiah yang dijanjikan. Sementara kemajuan Umat Islam dibidang Iptek, Ekonomi, Ideologi, dan bidang- bidang yang lain adalah perkara nomor kesekian yang seakan- akan janji Surga tidak berlaku diatas jalan ini.

 

Dalam buku ini penulis mencoba memaparkan duduk perkara ritual yang telah menjadi pro dan kontra abadi antar umat Islam di Indonesia, sebuah kegiatan yang konon warisan dari zaman kerajaan Hindu yang di Islamisasi, yaitu acara Tahlilan, Yasinan, dan Selamatan, acara yang mengundang  perdebatan panjang yang seakan tiada akhir, dalam buku ini penulis memaparkan kedua dalil yang digunakan kedua belah pihak, alasan- alasan pembenaran dikomparasikan dengan alasan alasan pensyirikan, dikaji dengan bahasa yang lugas nan jelas, kemudian disimpulkan dengan kesimpulan yang mudah dipahami, semoga dengan adanya buku ini mampu membuka wawasan bagi saudara saudara kita yang “menyerang”, bahwa apa yang mereka lakukan tidak selayaknya terjadi, karena pendapat kami juga berlandaskan Al Qur’an dan Hadits, dan juga bagi sobat sobatku yang “diserang” semoga menjadi tambahan wawasan khazanah ilmu pengetahuan, cerita bagi anak didik kita bahwa warisan Wali Songo yang sangat unik ini selayaknya dilestarikan.

 

Dengan membahas salah satu Tema perdebatan umat Islam diIndonesiayaitu Tahlilan, Penulis berharap kepada kita semua sebagai umat Islam agar tidak selayaknya hidup dalam permusuhan, saling menghargai pendapat wajib menjadi sifat umat Islam generasi sekarang. Dan hobi mengkafirkan, mensyirikkan sesama muslim selayaknya dibumihanguskan, kebangkitan umat Islam tidak akan pernah tercapai jikalau persatuan umat Islam tidak terwujud, bagi saudara saudaraku yang “menyerang” berhentilah menyerang kami, dan bagi Sobat sobatku yang “diserang” mari kita gandeng tangan saudara- saudara kita yang “menyerang” supaya kita bisa menunjukkan kepada dunia bahwa umat yang percaya kepada Allah jauh lebih cerdas dari mereka yang tidak berTuhan.

 

Kairo, 9 Juli 2011.

 

 

 

Ahmad Budi Ahda Lc.

BAB I, APAKAH TAHLILAN BID’AH?

Saudara- saudara kita berpendapat bahwasanya segala amalan baru yang berkaitan dengan ibadah, dan belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah S.A.W serta para Sahabat adalah Bid’ah. Tak terkecuali Tahlilan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

 

Pernyataan saudara saudara kita diatas berlandaskan 3 Hadits Rasulullah.dibawah ini:

 

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال : قال رسول الله صل الله عليه وسلم: فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى محمد وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار

Dari Jabir R.A. berkata: Rasullullah S.A.W. bersabda : sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk buruk perkara adalah yang diada adakan, dan segala perkara yang diada adakan adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya dineraka.(H.R.Muslim)

Shohih Imam Bukhori no 2697, Shohih Muslim no 1718.

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara kami dan perkara tersebut tidak berasal dari  agama kami maka perkara tersebut tertolak (H.R Bukhori)

 

Imam Muslim meriwayatkan dalam sunannya Hadits no 1719 dengan lafadz:

 

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan  yang tidak terdapat didalam perkara kami (agama kami), maka ia (perkara tersebut) tertolak

 

JAWABAN KAMI:

 

Dari ketiga Hadits diatas saudara saudara kita berpendapat bahwa semua hal baru dalam Agama yang tidak pernah diperintahkan Rasulullah S.A.W adalah sesat,  karena mereka menafsiri kata “amr” dalam hadits من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد, sebagai “perintah” maka makna hadits diatas menurut saudara saudara kita adalah: “barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak” karena mereka menafsiri demikian maka produk fatwa mereka adalah: amalan amalan yang tidak pernah diperintahkan Allah dan Rasulullah adalah Bid’ah sesat, meskipun amalan baru tersebut membawa maslahat umat. Sementara kami menafsiri kata “amr” dalam hadits diatas sebagai “perkara” karena memang Hadits- hadits yang berkaitan dengan hadits diatas, kata “amr” didalamnya bermakna “perkara” sebagaimana pembahasan yang akan kita kupas dibawah, maka tafsiran menurut kami adalah: perkara perkara yang tidak terdapat dalam Syariat Islam dan perkara tersebut bertentangan dengan Syariat Islam perkara tersebut adalah Bid’ah sesat. Adapun perkara perkara yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam tidak termasuk kedalam Bid’ah yang sesat.

 

Apakah bukti bahwa yang dimaksud dengan Bid’ah seperti apa yang kami tafsiri dan bukan seperti apa yang mereka tafsirkan?

  • Dalam kitab Shohih Bukhori, Hadits no : 2696 menceritakan seorang sahabat datang kepada Rasulullah S.A.W meminta pengadilan dari beliau terhadap anaknya yang belum menikah telah berzina dengan istri tetangganya, para tetangga dari anak yang berzina tadi berkata bahwa hukuman bagi anaknya adalah dirajam, kemudian orang tuanya menebus hukuman rajam tersebut dengan 100 ekor kambing dan para tetangga menerima tebusan itu. Akan tetapi Rasulullah menghakimi anak tersebut dengan hukuman cambuk dan diasingkan setahun tidak seperti apa yang dikatakan tetangganya, sementara bagi istri tetangganya tadi adalah hukuman rajam karena memang dalam Islam seperti itu hukumanya, Kemudian di hadits berikutnya atau Hadits no 2697 Rasululllah S.A.W bersabda: “Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara kami dan perkara tersebut tidak berasal dari  agama kami maka perkara tersebut tertolak”  dalam konteks ini para tetangga yang mengatakan hukuman bagi si anak adalah dirajam akan tetapi boleh diganti dengan tebusan 100 ekor kambing jelas bertentangan dengan hukum Islam, karena hukuman sebenarnya bagi si anak adalah di cambuk bukannya dirajam, dan juga hukuman rajam tidak boleh diganti dengan 100 ekor kambing

 

Pernyataan bahwa Nabi SAW atau para sahabat tidak melakukan ini dan itu adalah benar. Akan tetapi pernyataan bahwa semua yang tidak dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi dan sahabat itu sesat adalah sebuah Istimbath (penyimpulan hukum) yang perlu diluruskan, Dalam mengambil Istimbath (penyimpulan hukum), kita harus saling mengaitkan antara Hadits satu dengan Hadits yang lain sehingga bisa diketahui hukum suatu perkara dengan jelas.

 

Jumhurul Ulama’ (Imam Nawawi Fathul Mun’im juz 4 hal 98), Imam Izz bin Abdus Salam Qowaid Ahkam Li Izz bin Abdus Salam juz 2 hal 172) Doctor Muhammad Bakr Ismail ( Qowaid fiqhiyyah bainal Asholah Wat Taujih, hal 378 terbitan Darul Manar 1997) berpendapat bahwa Bid’ah terbagi menjadilima

 

  1. Bid’ah Wajib : Seperti belajar Ilmu Nahwu, yang digunakan untuk memahami Al Qur’an dan Hadits, karena memahami Al Qur’an dan Hadits adalah wajib untuk menjaga syariat, dan segala perkara wajib jika tidak bisa terlaksana oleh suatu perkara, maka perkara itu juga wajib.
  2. Bid’ah Haram : Adalah Bid’ah yang bertentangan dengan syariat islam, Seperti ramalan nasib, karena ramalan nasib membuka pintu pintu syubhat dan syirik kepada Allah, dan ini jelas bertentangan dengan Syariat Islam
  3. Bid’ah Mandub / Sunnah : Seperti membangun sekolah untuk mempermudah menuntut ilmu, dan juga Shalat Tarawih berjama’ah
  4. Bid’ah Makruh : Seperti menghias masjid dengan hiasan yang berlebihan.
  5. Bid’ah Mubah  : Seperti makan dan minum yang enak enak. Dan memakai pakaian dan sandang yang bagus

 

Sementara itu, Ibnu Atsir berpendapat dalam kitabnya An Nihayah membagi Bid’ah menjadi dua, yaitu Bid’ah huda (baik) dan Bid’ah sesat

 

Ulama’- ulama’ kami yang mengklasifikasikan Bid’ah menjadi Bid’ah terpuji dan tercela bersandarkan Dalil berikut:

 

1. Perkataan Umar R.A. tentang Shalat Tarawih berjama’ah di masjid dalam bulan Ramadhan yang berbunyi : “inilah sebaik baik Bid’ah”

 

روي عن عبد الرحمان بن عبد القارئ أنه قال: خرجت مع عمر ابن خطاب رضي الله عنه  ليلة فى رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلى رجل لنفسه, ويصلى الرجل فيصلى بصلاة الرهط. فقال عمر إن أرا لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل, ثم عزم, فجمعهم على أبى بن كعب, ثم خرجت معه ليلة أخرى, والناس يصلون بصلات قارئهم, قال عمر نعم البدعة هذه, والتى ينامون عنها أفضل عن الذى يقومون. يريد أخر اليل. وكان الناس يقومون أوله

 

Diriwayatkan dari Abdurrahman Bin Abdul Qari’ sesungguhnya dia berkata: suatu malam dibulan Ramadhan saya keluar bersama Umar Bin Khottob R.A. ke masjid, dan orang orang terpencar terpisah pisah, laki laki sholat sendiri, dan ada seorang laki laki sholat “roht”. Maka umar berkata: saya berpendapat kalau sholat mereka saya kumpulkan dalam satu imam maka sekirannya akan lebih efektif, kemudian dia berazam, dan mengumpulkan mereka sholat diimami oleh Ubay Bin Ka’ab, kemudian saya keluar bersamanya (umar) dimalam yang lain dan orang- orang sholat dalam satu Imam, berkata umar : inilah sebaik baik Bid’ah

 

Saudara saudara kita yang menolak pembagian Bid’ah membantah bahwa sholat Terawih berjama’ah bukanlah Bid’ah karena Rasulullah pernah melaksanakannya dengan sahabat, akan tetapi meninggalkannya karena takut nantinya sholat Tarawih berjama’ah dihukumi wajib. Maka sholat tarawih berjama’ah bukanlah perkara yang diadakan umar, karena Rasulullah pernah mengerjakannya kemudian meninggalkannya, Jadi perkataan umar diatas tidaklah menjelaskan bahwa sholat Tarawih berjama’ah adalah Bid’ah yang baik.

 

Jawaban kami: yang dimaksud  Umar R.A dengan perkataannya “inilah sebaik baik Bid’ah” bukan terletak pada sholat Tarawih berjama’ah, akan tetapi terletak pada: memelihara sholat Tarawih berjama’ah setiap malam Ramadhan, sementara Rasulullah hanya sholat beberapa malam saja, dan sisanya orang orang melaksanakan sholat Tarawih dengan sendiri sendiri di masjid seperti jelas apa yang dikisahkan dalam atsar diatas. Maka sholat Tarawih setiap malam Ramadhan dengan berjama’ah yang diadakan oleh umar, dan belum pernah dilaksanakan dizaman Rasulullah, ini dihukumi Umar sebagai Bid’ah yang terpuji/ Bid’ah Hasanah

 

 

2.  Hadits Nabi S.A.W. yang berbunyi :

قال رسول الله صل الله عليه و سلم : من سن سنة حسنة فعليه أجرها و أجر من عمل بها إلى يوم القيامة, ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بهاإلى يوم القيامة

Rasulullah S.A.W bersabda: barang siapa yang mensunahkan suatu sunnah yang baik, maka dia mendapat imbalannya dan imbalan orang orang yang mengerjakannya sampai hari Qiyamat, dan barang siapa yang mensunahkan suatu sunnah yang jelek, maka dia mendapat dosanya dan dosa orang orang yang mengerjakannya sampai hari kiyamat.

 

Dari atsar Umar Bin Khattab dan hadits Rasulullah S.A.W,  ditarik kesimpulan oleh Imam Izz Bin Abdussalam dan Imam Nawawi bahwa Bid’ah yang dilarang oleh Rasulullah adalah Bid’ah yang bertentangan dengan Syariat Islam, Adapun Rasulullah mengatakan “semua Bid’ah sesat “ hal itu dikarenakan disaat itu kaum muslimin gemar mengadakan suatu hal baru yang bertentangan dengan Syariat Islam kemudian mengklaim bahwa hal baru yang diadakannya adalah bagian dari Syariat Islam. Pendapat ini juga dibenarkan oleh Dr. Muhammad Bakr Ismail dalam kitab Qowaid Fiqhiyah, terbitan Darul Manar hal 378

 

Kalimat ما ليس منه   dan ليس عليه أمرنا  (tidak terdapat dalam perkara kami) ditafsiri oleh Imam Nawawi dalam Fathul Bari (juz 6 halaman 580 cetakan Darut Taybah) sebagai perkara baru dalam agama yang bertentangan dengan Syariat Islam, berkata Imam Nawawi :” seyogyanya hadits ini digunakan dan dipegang teguh serta menggunakannya untuk menolak kemungkaran yang sering digunakan sebagai dalil kemudian Imam Nawawi menjelaskan hal hal yang tidak termasuk dalam perkara agama, semisal ada orang menyatakan bahwasanya berwudhu dengan air najis adalah boleh, maka hal ini tidak dianggap (tertolak) , karena berwudhu dengan air najis jelas bertentangan dengan syariat islam, namun jika seseorang berkata bahwa niat adalah bagian dari wudhu, maka hal ini dianggap sah, karena memang niat bagian dari Syariat Islam.

 

Jelas sudah bahwa perkara yang dimaksud dalam Hadits diatas adalah perkara baru yang bertentangan dengan Syariat Islam, sementara dalam Tahlilan tidak ada perkara yang bertentangan dengan Syariat Islam, justru di dalamnya terdapat nilai- nilai dan nafas Islami, seperti berzikir, membaca Al Qur’an, dan Shodaqoh. Lain halnya jika Tahlilan berisi bakar menyan, baca mantara dan lain lain kemudian diklaim sebagai bagian Syariat Islam maka barulah amalan seperti ini bertentangan dengan Syariat Islam dan tidak dianggap (tertolak)

 

Saudara saudara kita yang menolak pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah hasanah dan Bid’ah dholalah berarti mengingkari pendapat Jumhurul Ulama’,  Ketika kita mengemukakan pendapat ulama, sebagian orang membantah dengan penyataan bahwa Hadits lebih utama untuk diikuti dari pendapat siapapun, Itu berarti mereka mengira bahwa pendapat Ulama tidak berdasarkan Al-Qur’an atau Hadits, padahal para mujtahid dan para ulama’ berfatwa berlandaskan Al Qur’an dan Hadits.

 

Perbedaan pendapat yang paling mencolok antara mereka dan kami adalah dari sudut pandang dalam melihat Tahlilan, mereka yang mem-bid’ah-kan Tahlilan meliat Tahlilan dari segi “bungkus / paket”, sebuah ritual yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul, namun kami melihat tahlilan bukan dari “bungkus / paket”, akan tetapi “isinya”, memang “bungkusnya” tidak pernah dicontohkan oleh Rasul, namun “isinya” sungguh sangat sangat, dianjurkan,dipuji dan dicontohkan oleh Rasulullah, seperti bershodaqoh, membaca Al Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan mendoakan kaum mukminin yang masih hidup ataupun sudah meninggal.

 

Lagi yang menjadi perbeda’an antara mereka dan kami, mereka menafsiri Bid’ah sebagai hal baru dalam Agama, segala amalan ibadah baru dalam Islam kalau tidak pernah diperintahkan Nabi maka dihukumi Bid’ah / Haram, sementara kami menafsirkan istilah Bid’ah adalah suatu amalan baru dalam Islam dan bertentangan dengan Syariat Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam “Fathul Mun’im” dan Imam Izz Bin Abdussalam dalam “Qowaid Ahkam”

 

Saudara saudara kita berkilah bahwasanya semua Bid’ah adalah sesat meskipun manusia menganggapnya baik dengan atsar Abdullah Ibnu Umar yang berkata : “Setiap Bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah no.126)

 

Penjelasan kami: yang dimaksud perkataan Ibnu Umar diatas adalah Bid’ah yang bertentangan dengan syariat Islam. Meskipun manusia menganggap  baik jikalau bertentangan dengan Syariat Islam maka hukumnya sesat. Perlu diketahui bahwa dizaman Abdullah bin Umar banyak umat Islam yang mengadakan ritual ibadah baru yang bertentangan dengan Syariat Islam, kemudian mengklaim bahwa ritual ritual yang diadakannya adalah bagian dari syariat islam. Meskipun ritual ini baik namun jika bertentangan dengan Syariat Islam maka hukumnya adalah sesat. Begitulah yang dimaksud dengan ‘Atsar Abdulllah bin Umar

 

Apakah membaca Al Qur’an, bertasbih, bertahlil, dan bertahmid serta bershodaqoh makanan yang terdapat dalam Tahlilan bertentangan dengan Syariat Islam? Jikalau tidak, apakah benar jika kita memasukkan Tahlilan termasuk kedalam Bid’ah yang sesat?

 

BAB II, APAKAH PAHALA TAHLILAN TIDAK SAMPAI KEPADA SI MAYIT?

Saudara – saudara kita yang menolak Tahlilan menganggap baca’an Al Qur’an, Dzikir, dan Shodaqoh makanan dalam Tahlilan yang dihadiahkan untuk si mayyit sia- sia belaka dan pahalanya tidak sampai kepada si mayyit,  karena seorang yang telah meninggal dunia akan terputus seluruh amal perbuatannya kecuali tiga perkara :

  1. Shodaqoh Jariyah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak sholeh yang senantisa mendoakan kedua orang tuanya

Ketiga perkara diatas berdasarkan Hadits Rasululullah :

 

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صل الله عليه وسلم: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له (رواه مسلم)

 

Dari Abu Hurairah R.A berkata, Rasulullah SAW bersabda : jika anak adam (manusia) meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakannya (H.R. Muslim)

 

JAWABAN  KAMI :

 

Perlu diketahui bahwasanya ketiga perkara diatas bukanlah harga mati bagi manusia yang telah meninggal untuk mendapat kebaikan dari manusia lain yang masih hidup, karena Rasulullah bersabda dalam hadits diatas dengan perkata’an انقطع عمله (terputus amal perbuatannya) dan bukan berkata انقطع العمل له (terputus amal perbuatan untuknya) maka daripada itu do’a saudara seiman bermanfaat untuk muslim yang lain meskipun telah meninggal dunia, Allah SWT berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 10:

 

 

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌٌ

Artinya : Dan orang -orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a: wahai Tuhan kami ampunilah kami dan saudara – saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhdap orang orang yang beriman, ya tuhan kami sesungguhnay engkau maha penyantun lagi maha penyayang

 

Dalam Ayat diatas kalimat :”saudara saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami” adalah umum untuk mereka yang telah meninggal ataupun yang masih hidup.

 

Berikut kutipan fatwa Ibnu Taimiyah mengenai masalah ini dan Hadits 3 amal perbuatan diatas diatas dalam Kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 24 halaman 170

ليس فى الحديث أن الميت لا ينتفع بدعاء الخلق له, وبما يعمل عنه من البر, بل أئمة الإسلام متفقون على انتفاع الميت بذالك, وهذ مما يعلم بالإضطرار من دين الإسلام, وقد دل عليه الكتاب والسنة و الإجماع, فمن خالف ذالك كن من أهل البدع

Hadits diatas tidak bermakna bahwa mayit tidak mendapat manfaat dari do’a orang lain untuknya, serta amalan baik yang ditujukan kepadanya, bahkan Imam umat Islam sepakat bahwasanya mayyit mendapat manfaat dari itu semua, dan hal ini termasuk kedalam idtiror agama Islam, dan mereka (imam- imam umat Islam) berdalil dari Kitab, Sunnah, dan Ijma’ barang siapa yang mengingkari itu semua maka mereka termasuk ahli bid’ah

 

Kemudian dihalaman 178 Ibnu Taimiyah ditanya tentang menghadiahkan baca’an Qur’an, Dzikir dan Shodaqoh untuk orang yang telah meninggal, dan beliau menjawab:

 

يجوز إهداء ثواب العبادات المالية, والبدنية إلى موتى المسلمين. كما هو مذهب أحمد, و أبى حنيفة, و طائفة من أصحاب المالك والشافعى

 

“Boleh menghadiahkan pahala dari ibadah harta benda (shodaqoh, zakat) dan ibadah badaniyah (sholat, dzikir, baca’an Al Qur’an, puasa) sebagaimana madzhabnya imam Ahmad, imam Abu Hanifah, dan sebagian ulama madzhab Maliki dan Syafi’ie”.

 

Masih di kitab yang sama halaman 180 Ibnu Taimiyah ditanya bagaimana jika seseorang membaca kalimat Tahlil (la ilahaillallah) kemudian dihadiahkan kepada orang lain yang telah meninggal, dan beliau menjawab :

 

إذا هلل الإنسان هكذا: سبعون ألفا, أو قل, أو أكثر, و أهديت إليه, نفعه الله بذالك

 Jikalau seseorang bertalil seperti ini : 70 ribu kali, atau lebih sedikit, atau lebih banyak, kemudian dihadiahkan untuknya (si mayyit) dan seperti itu Allah memberikan manfaat untuk si mayyit dengannya (tahlil 70 Ribu kali).

 

Islam tidak hanya menganjurkan untuk mendoakan si mayyit, bahkan disetiap amalan ibadah kita, Islam menganjurkan untuk menghadiahkan pahalanya kepada saudara -saudara kita, Sebagaimana perkataan Imam Nawawi dalam kitab Futuhat Robbaniyah Syarhul Adzkar Nawawi Juz 4 hal 205

وقال الإمام النووي في كتابه الأذكار: فالإختيار أن يقول القارئ بعد الفراغ اللهم أوصل ثواب ما قرأته إلي فلان

Imam Nawawi berkata: menjadi pilihan untuk orang yang membaca Qur’an berdo’a di akhir baca’annya: “ya Allah sampaikanlah pahala dari apa apa yang telah aku baca untuk si fulan”

 

Banyak sekali ayat -ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk memohon ampunan bagi saudara -saudara kita seiman yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, diantaranya sebagai berikut:

واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات

Dan mintalah ampunan untuk dosamu dan orang orang yang beriman laki laki dan perempuan (Q.S Muhammad : 19)

ربنا اغفرلى ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

Wahai Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang orang yang beriman di hari perhitungan (Q.S. Ibrahim: 19)

رب اغفرلى ولوالدي ولمن دخل بيتى مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات

 

 

Ya Tuhanku ampunilah aku, kedua  orang tuaku , orang orang yang memasuki rumahku dengan beriman dan orang -orang yang beriman laki -laki ataupun perempuan. (Q.S. Nuh : 28)

 

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌٌ

Dan orang orang yang dating sesudah mereka (muhajirin dan anshar) mereka berdo’a: ya tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara – saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhdap orang orang yang beriman, ya tuhan kami sesungguhnay engkau maha penyantun lagi maha penyayang (Q.S. Al Hasyr Ayat 10)

 

 

Pahala shodaqoh yang dihadiahkan untuk si mayyit pun akan sampai kepada tujuannya, Berikut ini kami paparkan Hadits -Hadts yang menerangkan bahwasanya pahala shodaqoh yang dihadiahkan untuk si mayyit juga bermanfaat untuk si mayyit:

 

Shohih Muslim Hadits ke 1630:

 

عن أبى هريرة : أن رجلا قال للنبي صل الله عليه وسلم: إن أبى مات ولم يوص, أينفعه إن تصدقت عنه؟ قال نعم

Dari Abu Hurairah R.A. bahwasanya seorang laki -laki bertanya kepada Nabi S.A.W, sesungguhnya ayaku meninggal dan belum berwasiat, bolehkan aku bershodaqoh untuknya? Nabi S.A.W. Menjawab: Iya Boleh

 

وفى سنن دار القطنى  : أن رجلا سأل النبى صل الله عليه و سلم فقال: يا رسول الله, إن لى أبوان وكنت أبر هما حال حياتهما. فكيف بالبر بعد موتهما؟ فقال النبى صل الله عليه وسلم: إن من بعد البر أن تصلى لهما مع صلاتك, و أن تصوم لهما مع صيامك, وأن تصدق لهما مع صدقتك,

Dan di dalam Sunan Darul Quthniy disebutkan: ada seorang laki- laki bertanya kepada Nabi S.A.W: wahai Rasulullah sesungguhnya saya memiliki kedua orang tua yang sangat aku patuhi, maka bagaimana cara berbakti kepda keduanya ketika mereka telah meninggal?  Maka Nabi S.A.W. bersabda: sesungguhnya salah satu dari bentuk kebaktian adalah sholat untuk mereka diantara sholatmu, dan bershodaqoh untuk mereka diantara shodaqohmu.

Saudara saudara kita berpendapat bahwa do’a sealain dari anak si mayyit atau selain dari keluarga si mayyit tidak akan sampai kepada si mayyit, pendapat mereka sepertinya harus dibenahi, karena Rasulullah juga berdo’a kepada si mayyit meskipun bukan dari keluarga Beliau, Berikut Hadits- hadits Rasulullah yang mengisahkan bahwasanya Rasulullah SAW juga berdo’a untuk orang yang telah meninggal meskipun bukan dari saudara Rasul.:

 

Dari Jami’ Shohih Bukhori juz 1 Hadits ke 218 halaman 87 cetakan Maktabah Salafiyah Kairo Mesir

 

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ ‏”‏ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ‏”‏‏.‏ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ ‏”‏ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا ‏

 

Dari Ibnu Abbas R.A berkata : suatu hari Rasulullah SAW melewati dua kuburan kemudian berkata : sesungguhnya mereka (yang ada dalam kedua kuburan ini) disiksa didalam kuburnya, dan siksa itu dikarenakan dosa besar, salah satu diantara keduanya tidak mencegah cipratan air kencing ketika buang air kecil, yang satu lagi adalah pengadu domba. kemudian beliau mengambil pelepah kurma kering dan mematahkannya menjadi dua bagian dan menancapkannya kepada masing masing kuburan tersebut. kami bertanya : wahai Rasulullah kenapa engkau melakukan itu? beliau menjawab, “semoga keduanya diringankan dari adzab kubur”..

 

Dari kitab Is’adur Raaiy Bi Afrad Warawaid Annasa’I juz 1 halaman 136 dalam bab permohonan ampunan untuk orang orang yang beriman,  terbitan Darul Kutub Al Ilmiyyahbeirutlebanon:

 

عن أبى هريرة قال: لما مات النجاشي قال النبى صل الله عليه و سلم: “استغفروا له”

 

Dari Abu Hurairah R.A. berkata : ketika salah seorang Najasyi meninggal, Rasulullah SAW bersabda: “kalian semua mintalah ampunan untuknya”.

 

 

Dari kitab Addibaaj Ala Shohihi Muslim Juz 3 halaman 38 cetakan Dar Ibnu Affan tentang Do’a Rosulullah SAW. Untuk mayyit

اللهم اغفرله واعف عنه وعافيه واكرم نزله ووسع مدخله واغسله بماء وثلج وبرد ونقه من الخطايا كما ينق الثوب الأبيض… من الدنس وأبدله دارا خيرا من داره واهلا خيرا من أهله وزوجا خيرا من زوجه وقه فتنةالقبر وعذاب النار

Ya Allah ampunilah dia, maafkanlah, sejahterakanlah dia, muliakanlah tempatnya, perluaslah tempat masuknya, mandikanlah dia dari kotoran dengan air dan es, gantikanlah dia dengan tempat yang baik, dinginkanlah, dan sucikanlah dia dari kesalahan kesalahan sebagaimana sucinya pakaian yang putih dari rumahnya, dan keluarga yang baik dari keluarganya, dan istri yang baik dan peliharalah dia dari fitnah qubur dan adzab neraka

 

Dari Shohih Muslim Hadits no 1695, dikisahkan bahwa seorang bernama Maiz Bin Malik mengaku telah berzina, kemudian Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk merajamnya,  dua atau tiga hari kemudian Rasulullah S.A.W menyapa segerombolan orang yang merajam Maiz kemudian bersabda :

استغفروا لماعز بن مالك, فقالوا : غفر الله لماعز بن مالك, فقال رسول الله صل الله عليه و سلم :” لقد تاب توبة لو قسمت بين أمة لوسعتهم”

Mintalah kalian semua ampunan untuk maiz, mereka berkata : Allah telah mengampuni Maiz Bin Malik, kemudian Rasulullah SAW bersabda: telah bertaubat dengan taubat jikalau dibagikan kepada suatu umat akan terpenuhi semua.

 

 

Adapun dalam Tahlilan baca’an Al Qur’an yang dibaca adalahsuratyasin dan bukannyasuratsuratyang lain Karena Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk membacakan Yasin keapada orang yang telah meninggal. Berikut kami paparkan Hadits -Hadits beliau:

 

عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلي الله عليه وسلم قال من دخل المقابرفقرأ سورة يـس خفف الله عنهم وكان له بعدد من فيها حسنات

 

Dari Anas R.A. bahwa Rasulullah SAW bersabda: barang siapa yang memasuki Kuburan kemudian membaca surat Yasin, maka Allah meringankan mereka (ahli kubur) dan bagi orang yang membacanya  mendapatkan kebaikan sebanyak kebaikan orang orang yang didalam kubur (HR. Abdul Aziz, murid al-Khallal, dan disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughnî).

 

حديث معقل بن يسار رضي الله عنه قال قال النبي صلي الله عليه وسلم إقرأوا يـس علي موتاكم

Hadits Mu’qil Bin Yasar RA. Berkata: Rasulullah SAW bersabda: bacakanlah surat yasin atas jenazah kalian (sunan Abu Dawud no 3121, sunan ibnu majah no 1448, dan ibnu hibban no 3002)

 

وري الإمام أحمد والبيهقي: عن معقل بن يسار رضي الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال: قلب القرآن يـس ، لا يقرأها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر الله له ، إقرأوها علي موتاكم

Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad Al Baihaqi: dari Mu’qil Bin Yasar RA. Dari Nabi SAW, bersabda: hatinya Al Qur’an adalah surat Yasin, tidakpun seseorang yang membacanya yang mengininkan Allah dan Akhirat kecuali Allah mengampuninya, bacakanlah dia (yasin) atas jenazah diantara kalian. (At Taaj Al Jami’ Lil Ushul juz 4 hal 21)

 

 

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم “ما من ميت يموت ويقرأ عنده يـس إلا هون الله تعالي عليه

Dari Abu Darda’ Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang mayyit yang meninggal dan dibacakan padanya surat Yasin kecuali Allah meringankan untuknya. (Al Mathalib Al Aliyah Juz 1 Hal 315/806)

 

Saudara saudara kita berkilah bahawasanya seluruh Hadits tentang keutama’an dan fadhilah Surat Yasin tersebut diatas adalah Hadits Dhoif (lemah), tidak boleh dijadikan sandaran amalan bagi muslim.

 

Jawaban kami:

  1. Hadits “Bacakanlah surat Yâsîn atas orang-orang yang meninggal diantara kalian.” menurut fatwa dari Lembaga Fatwa Mesir adalah Hadits Shohih yang dihohihkan oleh Ibnu Hibban.
  2. Dhoif tidaknya Hadits diatas tidak berpengaruh terhadap pembahasan bab ini bahwa baca’an Al Qur’an yang dihadiahkan untuk si mayyit pahalanya sampai dan bermanfaat untuk si mayyit, dansuratYasin adalah bagiansuratdari Al Qur’an. Maka membacasuratmanapun dari Al Qur’an yang dihadiahkan untuk si mayyit adalah boleh.

 

Saudara saudara kita juga berkilah bahwasanya baca’an Qur’an dan Dzikir yang dihadiahkan untuk si mayyit memang sampai kepada si mayyit, namun cara yang digunakan seperti dalam tahlilan tidak pernah dicontohkan  oleh Rasulullah adalah Bid’ah maka karena caranya Bid’ah pahalanya tidak sampai kepada si mayyit,

 

Jawaban kami: bid’ah tidaknya tahlilan telah kita bahas di bab sebelumnya yang intinya Tahlilan bukanlah bid’ah yang sesat, maka menghadiahkan bacaan Al Qur’an entah sendiri sendiri atau melalui acara Tahlilan pahalanya akan tetap sampai kepada si mayyit.

 

Saudara -saudara kita yang berpendapat bahwa baca’an Al Qur’an, baca’an Tahlil, Tahmid, dan shodaqoh makanan dalam Tahlilan yang dihadiahkan untuk si mayyit tidak bermanfaat untuk si mayyit jelas bertentangan dengan Al Qur’an, Hadits Nabi, dan Ijma’ ulama’ maka yang demikian itu sungguh pendapat yang perlu diluruskan karena bertentangan dengan Al Qur’an, Hadits, dan Ijma’ Ulama’.

BAB III, APAKAH BERDZIKIR BERJAMAAH DILARANG?

Saudara -saudara kita yang menolak Tahlilan berpendapat bahwasanya berdzikir berjama’ah dilarang oleh Allah dan Rasulnya, sementara Tahlilan identik dengan dzikir berjama’ah.

 

Pelarangan berdzikir berjama’ah bersandar pada Atsar Shohabah (Bukan Hadits Nabi) yang diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam kitab Al Muqaddimah atsar no 204. yang berbunyi sebagai berikut:

 

خْبَرَنَا اْلحَكَمُ بْنُ المُبَارَكِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِيْ يُحَدِّثُ عن أبيه قال كنا نجلس علي باب عبد الله بن مسعود قبل الصلاة الغداة فإذا خرج مشينا معه إلي المسجد فجاعنا أبو موسي الأشعري فقال أخرج إليكم أبو عبد الرحمن بعد قلنا لا فجلس معنا حتي خرج فلما خرج قمنا إليه جميعا فقل له أبو موسي يا أبا عبد الرحمن إني رأيت في المسجد انفا أمرا أنكرته ولم أر والحمد لله إلا خيرا قال فما هو فقال إن عشت فستراه قال رأيت في المسجد قوما حلقا جلوسا ينتظرون الصلاة في كل حلقة رجل وفي أيديهم حصي فيقول كبروا مائة فيكبرون مائة فيقولوا هللوا مائة فيهللون مائة ويقول سبحوا مائة فيسبحون مائة قال فماذا قلت لهم قال ما قلت لهم شيئا انتظار رأيك وانتنظر أمرك قال أفلا أمر تهم أن يعدوا سيئا تهم وضمنت لهم ألا يضيع من حسناتهم ثم مضي ومضينا معه حتي أتي حلقة من تلك الحلق فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبد الرحمن حصي نعد به التكبير والتهليل والتسبيح قال فعدوا سيئاتكم فأنا ضامن أن لا يضيع من حسناتكم شيئ ويحكم يا أمة محمد ما أسرع هلكتهم هؤلاء صحابة نبيكم صلي الله عليه وسلم متافرون وهذه ثيابه تبل وانيته لم تكسر والذي نفسي بيده إنكم لعلي ملة هي أهدي من ملة محمد أو مفتتحو باب ضلالة قالو والله يا أبا عبد الرحمن ما أردنا إلا الخير قال وكم من مريد للخير لن يصيبه إن رسو ل الله صلي الله عليه وسلم حدثنا أن قوما يقرون القران لايجاوز تراقيهم

Yang artinya:

Telah mengkabarkan kepada kami Al-Hakam bin Mubarrak,telah mendengar: aku:” menceritakan kepada kami Umar bin Yahya ia berkata “ayahku mengisahkan dari ayahnya ia berkata : ” kami duduk didepan pintu rumah Ibni Mas`ud sebelum shalat shubuh, apabila beliau keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid, (ketika kami sedang menanti beliau ) datanglah Abu Musa al asyar`I seraya bertanya “apakah Abu Abdurrahman telah keluar ? belum, jawab kami, maka beliaupun duduk bersama kami menunggu sampai Ibnu Mas`ud keluar ketika beliau keluar kami semua berdiri, lalu Abu Musa bertanya Hai Abu Abdurrahman! sungguh tadi dimasjid aku melihat suaktu perkara yang aku ingkari, namun secara sekilas nampaknya hal itu baik, apaitu ? tanya Ibnu mas`ud, ia Abu Musa menjawab “sekiranya engkau dikarunia umur panjang engkau akan melihatnya, dimasjid aku melihat sekelompok orang duduk-duduk membentuk beberapa halaqah, mereka sedang menunggu shalat, setiap kelompok tersebut dipimpin oleh seorang sedang tangan mereka memegang batu kerikil, pimpinan jamaah tersebut berkata kepada jamaahnya : bertakbirlah seratus kali! maka mereka bertakbir seratus kali, lalu ia berkata lagi : bertahlilah seratus kali! maka merekapun bertahlil seratus kali, maka ia berkata lagi : ”bertasbilah seratus kali! Maka mereka bertasbih seratus kali, Ibnu Masud bertanya kepada kepada Abu Musa: ”lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?aku tidak berkomentar apa-apa menunggu pendapat dan perintah darimu ,”jawab Abu Musa “tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa dan engkau jamin bahwa perbuatan baik mereka tak akan sirna sedikitpun ? ” kata Ibnu Masud. maka berangkatlah beliau Ibnu masud dan kamipun memgikutinya hingga beliau sampai kepada salah satu halaqah tersebut, lalu beliau memberhentikan mereka seraya berkata “Hitunglah dosa-dosa kalian maka aku menjamin bahwa amalan baik kalian tidak akan sia-sia, celakalah kalian wahai umat Muhammmad, alangkah cepatnya kalian menuju kebinasaan ,padahal para sahabat Nabi kalian masih banyak, dan bejana-bejana mereka belum pecah, Demi jiwaku yang berada ditanganya ! kalian berada diatas Agama yang lebih baik dari agama Nabi Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan ? mereka menjawab : ”Demi Allah hai Abu Abdurrahman ! kami tidak menghendaki kecuali kebaikan : maka beliau mengatakan “berapa banyak orang yang menghendaki kebaikan tetapi ia tidak mendapatkan

 

Atsar shohabah diatas menceritakan ada sekelompok orang yang berdzikir bersama sama dengan menghitung hitungan dzikir dengan kerikil kemudian di ingkari oleh sahabat Nabi  Ibnu Mas’ud, yang menjadi pertanyaannya, apakah yang diingkari Ibnu Mas’ud berdzikir bersama sama ataukah menghitung hitungan dzikir dengan kerikil?

 

 

JAWABAN KAMI:

 

Menurut hemat kami pengingkaran shahabat ‘Abdullah ibn Mas’ud adalah apa yang dikerjakan oleh mereka, yaitu menghitung dzikir dengan kerikil. Bukan pada membaca Takbir, Tahlil Dan Tahmid seratus kali bersama-sama, alasannya adalah:

 

1. Sebagaimana Atsar yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah juz II halaman 391 Sanad dan matannya sebagai berikut:

 

– حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، عَنِ الأَعْمَشِ ، عَنْ إبْرَاهِيمَ ، قَالَ : كَانَ عَبْدُ اللهِ يَكْرَهُ الْعَدَدَ وَيَقُولُ : أَيُمَنُّ عَلَى اللهِ حَسَنَاتِهِ؟.

 

Menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, dari a’masy dari Ibrahim, berkata : “Adalah ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud), beliau membenci menghitung (dzkir dengan kerikil) seraya bertanya: “Apakah kebaikan-kebaikannya telah diberikan kepada Allah?”

 

2. Dzikir berjama’ah justru sangat dipuji Oleh Rasul, dan bahkan di kitab Shohih Muslim ada satu bab tersendiri tentang keutama’an berdzikir dan membaca AL Qur’an secara berjama’ah . Berikut kami paparkan sebagian Hadits -Hadits beliau:

 

Shohih Muslim Hadits no 2701:

عن أبي سعيد الخدري، قال‏:خرج معاوية على حلقة في المسجد‏.‏ فقال‏:‏ ما أجلسكم‏؟‏ قالوا‏:‏ جلسنا نذكر الله‏.‏ قال‏:‏ آلله‏!‏ ما أجلسكم إلا ذاك‏؟‏ قالوا‏:‏ والله‏!‏ ما أجلسنا إلا ذاك‏.‏ قال‏:‏ أما إني أستحلفكم تهمة لكم‏.‏ وما كان أحد بمنزلتي من رسول الله صلى الله عليه وسلم أقل عنه حديثا مني‏.‏ وإن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج على حلقة من أصحابه‏.‏ فقال ‏”‏ما أجلسكم‏؟‏‏”‏ قالوا‏:‏ جلسنا نذكر الله ونحمده على ما هدانا للإسلام، ومن به علينا‏.‏ قال ‏”‏آلله‏!‏ ما أجلسكم إلا ذاك‏؟‏‏”‏ قالوا‏:‏ والله‏!‏ ما أجلسنا إلا ذاك‏.‏ قال ‏”‏أما إني لم أستحلفكم تهمة لكم‏.‏ ولكنه أتاني جبريل فأخبرني؛ أن الله عز وجل يباهي بكم الملائكة‏”‏‏.

 

Dari Abu Sa’id Al Khudry berkata: Muawiyah keluar ke khalaqoh masjid dan berkata:

Dan sesungguhnya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wasallam- keluar (melewati) satu lingkaran dari shahabat beliau. Lalu beliau bertanya: “Apakah yang menjadikan kamu duduk ?”. Merekapun menjawab: “Kami duduk berdzikir kepada Allah. Kami memuji-Nya atas hidayah dan anugerah-Nya kepada kami (yaitu) agama Islam”. Rasulullah bertanya: “Adakah karena Allah, tiada sesuatu yang membuat kamu duduk kecuali hal itu ?’.  Mereka menjawab: “Demi Allah, tiada sesuatu yang membuat kami duduk kecuali hal itu”. Rasulullah bersada: “Adapun sesungguhnya aku tidak meminta kamu sumpah karena mencurigai kamu. Akan tetapi Jibril datang kepadaku. Dia mengabarkan bahwa Allah -‘Azza wa Jalla- membanggakan kamu kepada malaikat“.

 

Shohih Muslim No: 2699

عن أبي هريرة‏.‏ قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏”‏ ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله، يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم، إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة، وذكرهم الله فيمن عنده‏.‏ ومن بطأ به عمله، لم يسرع به نسبه‏”

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: tidak akan berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah (Al Qur’an) dan saling mengajarkannya diantara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan tercurah kepada mereka rahmat, dan malaikat mengelilingi mereka, dan Allah mengingat mereka sebagaimana mereka mengingat Allah, dan barang siapa yang karena dengannya (berdzikir berjamaah) pekerjaannya tertunda, maka Allah tidak akan mempercepat kematiannya.

 

Adapun tentang hitungan Tasbih dengan menggunakan kerikil, Ibnu Taimiyah sendiri menganggap hal itu sebagai hal yang baik, dan banyak para Sahabat yang melakukan hal tersebut, bahkan Nabi pernah menyaksikan Ummul Mukminin bertasbih menggunakan kerikil, dan dikisahkan pula bahwa Abu Hurairah juga bertasbih dengannya (kerikil) (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah juz 22 hal 297)

 

Dari Hadits dan Fatwa Ibnu Taimiyah diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa berdzikir berjama’ah tidaklah dilarang oleh Rasul, bahkan sangat dipuji, adapun sahabat Ibnu Mas’ud mengingkari perkara tersebut dikarenakan yang diingkari adalah menghitung hitungan dengan kerikil, dan bukan pada berdzikir berjama’ah, adapun hitungan tasbih dengan kerikil sendiri Ibnu Taimiyah membolehkan, jadi ada khilaf tentang bertasbih dengan kerikil, toh seandainya yang dibenci oleh Ibnu Mas’ud adalah berdzikir berjama’ah (padahal tidak), maka ada pertentangan antara Atsar shohabah dengan Hadits Nabi, dan di dalam ilmu Mustholah Hadits, Hadits (Perkataan Nabi) harus didahulukan daripada Atsar (Perkataan Shohabah). Karena hadits datangnya dari Nabi, sementara Atsar datangnya dari Sahabat

 

Syeikh Sya’rawi seorang Ulama’ terkemuka di Mesir menegaskan dalam Fatwanya tentang Ibadah Berjama’ah:  (hal 282 dalam buku berjudul Al Fatawa Kullu Maa Yahummul Muslim Fi Hayatihi Yaumihi Wa Ghodihi cetakan Darul Fath tahun 1997)

 

فضل الجماعة عظيم و عميم في حركة الحياة الإسلامية, وإن قبول عبادة الجماعة أشرف عند الله تبارك وتعالى

 

Keuatamaan berjama’ah sangatlah agung dalam gerak gerik kehidupan islami, diterimanya ibadah berjama’ah lebih mulia disisi Allah yang maha agung.

 

Berdzikir membaca Tahlil, Tahmid, Tasbih sangatlah dipuji oleh Allah dan Rasulnya,  berikut kami paparkan ayat Al Qur’an dan hadits Hadits Nabi yang mengupas keutama’an berdzikir, Hadits dan ayat Al Qur’an dibawah ini bermakna ‘aam (umum) dalam artian boleh dilakukan dalam keadaan dan cara apapun, sakit, gembira, sedih, sendiri sendiri, tak terkecuali dengan berjama’ah. Adapun berdzikir di dalam WC dilarang karena memang ada Dalil yang  secara tegas melarang berdzikir di dalam WC, sementara dalil yang melarang berdzikir berjama’ah tidak ada. Bahkan yang ada adalah keutama’an berdzikir berjama’ah.

 

Surat Al A’la ayat 1

 

سبح اسم ربك الذى أعلى

 

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi

 

Surat Al Anfal ayat 45, Surat Al Jumu’ah ayat 10

 

واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون

Dan perbanyaklah mengingat Allah (berdzikir) supaya kamu sekalian beruntung

 

Hadits shohih bukhori no 6403

عن أبى هريرة  أن رسولالله صلى الله عليه و سلم قال من قال لااله الا الله وحده لا شريكله له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير فى يوم مائة مرة كانت له عدل عشر رقاب وكتبت له مائة حسنة ومخيت عنه مائة سيئة وكانت له حرزا من الشيطان يوم ذلك حتى يسمى ولم يات أحد بأفضل مما جاء الا رجل عمل أكثر منه

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda: barang siapa yang mengucap “tiada tuhan selain Allah tiada sekutu baginya, baginya seluruh kekuasaan dan baginyapula segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segalanya” dalam satu hari seratus kali maka seakan akan dia memerdekakan 10 budak, dan dicatat untuknya 100 kebaikan, dan dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia dilindungi dari goda’an syetan dihari itu, dan tidak ada orang yang lebih baik daripada dia dihari itu kecuali orang yang beramal lebih banyak daripadanya.

 

Shohih Bukhori No: 6405

 

عن أبى هريرة  أن رسولالله صلى الله عليه و سلم قال: من قال سبحان الله وبحمده في يوم مائة مرة حطت عنه خطاياه وان كانت مثل زبد البحر

 

Dari Abu Hurairah R.A. Bahwasanya Rasulullah S.A.W. bersabda: barangsiapa yang mengucapkan maha suci Allah dan segala puji untukNya dalam satu hari 100 kali, maka dihapus dosa2nya meskipun seperti buih dilautan.

 

Shohih Bukhori No: 6406

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان في الميزان حبيبتان الى الرحمان سبحان الله العظيم  سبحان الله وبحمده

 

 

Dari Abu Hurairah R.A, dari Nabi S.A.W. bersabda: dua kalimat yang ringan di lidah namun berat di timbangan, dicintai oleh Ar Rahman (Allah) : mahasuci Allah yang maha Agung, maha suci Allah dan segala puji untukNya.

 

Hadits sohih bukhori no 6407 keutamaan dzikir

عب أبي موسي رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه و سلم مثل الذي يذكر ربه و الذي لا يذكر ربه مثل الحي و الميت

 

Dari Abu Musa R.A. berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir, adalah seperti orang hidup dan orang mati

 

Akhir kata, bertasbih, bertahlil adalah bagian dari Ibadah, dan bisa diQiyaskan dengan sholat berjama’ah, karena ‘illahnya sama yaitu ibadah badaniah, mereka yang mengklaim dzikir berjama’ah dilarang hanya berlandaskan pada Atsar Shohabah yang telah kita kaji dan ternyata yang di ingkari bukan terletak dari berdzikir berjama’ahnya, sementara justru banyak Hadits Nabi yang sangat memuji berdzikir berjama’ah.

BAB IV, APAKAH TAHLILAN WARISAN AGAMA HINDU?

Saudara -saudara kita mengatakan bahwa Tahlilan haram hukumnya karena warisan dari Agama Hindu, selamatan 7 Hari, 40, 100, dan 1000 hari. Adalah murni ritual Agama Hindu, Rasulullah melarang umatnya menyerupai dan mengamalkan adat adat orang kafir, sebagaimana Hadits Rasulullah S.A.W yang terdapat dalam Sunan Abu dawud Hadits no 4031 yang berbunyi:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”

 

 

JAWABAN  KAMI:

Jawaban kami di bab ini kami bagi menjadi 2 bagian:

  1. Pembahasan asal usul Tahlilan dan boleh tidaknya berdzikir di hari ke 7- 1000
  2. Pembahasan  hadits ““Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”

 

1. Pembahasan Asal Usul Tahlilan

Asal usul sejarah Tahlilan masih simpang siur, namun dari literatur yang kami telusuri, kami menemukan bahwa ritual ini telah ada semenjak abad ke 7 Hijriyah, dizaman itu banyak Ahli Dzikir yang bertahlil, bertasbih, dan bertahmid serta membaca Al Qur’an kemudian menghadiahkannya kepada orang mati, Ahli Dzikir ini sudah ada sejak zaman Ibnu Taimiyah hidup

 

Berikut kutipan dari kitab Majmu’fatawa Ibnu Taimiyah juz 22 hal 305

 

وسئل عن رجل ينكر على أهل الذكر يقول لهم: هذا الذكر بدعة وجهركم فى الذكر بدعة, وهم يفتتحون بالقرأن ويختتمون, ثم يدعون للمسلمين الأحياء والأموات, ويجمعون التسبيح والتحميد والتهليل والتكبير والحوقلة, ويصلون على النبى.

 

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka,”Dzikir kalian ini Bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga Bid’ah”.Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan Al-Qur’an, lalu mendoakan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaabillaah) dan shalawat kepada Nabi saw.”

 

Lantas apa jawaban beliau? Apaka beliau menistakan ritual ini? Berikut jawabannya:

 

الإجتماع لذكر لله, واستماع كتابه, والدعاء عمل صالح وهو من أفضل القربات والعبادات فى اللأوقات. ففى الصحيح عن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قال: إن لله ملائكة سياحين فى لأرض, فإذا مروا بقوم يذكرون الله, تنادو هلموا إلى حاجتكم “

 

“Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan Al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk “Qurbah” (hal mendekatkan diri kepada Allah) dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian dimuka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepadaAllah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”,

 

وأما محفظة الإنسان على أوراد له من الصلاة, أو القراءة, أو الذكر أو الدعاء طرفى النهار وزلفا من الليل, وغير ذالك, فهذا سنة رسول الله والصالحين من عباد الله قديما و حديثا

 

Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 305)

 

Dalam Islam sendiri, tradisi selamatan tujuh hari telah ada sejak generasi sahabat Nabi S.A.W berikut ini kami paparkan Atsar Shohabah yang menunjukkan bahwa tradisi selamatan atau shodaqoh dengan makanan selama 7 hari telah ada semenjak Sahabat Nabi.

 

Berikut Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim, dalam Hilyah al-Auliya juz 2, hal.12 Al Hawi Lil Fatawa Al Hafid Assuyuti juz 2 hal 168 dalam risalah ke 66

 

 

عن طاووس بن كيسان وعن عبيد بن عمير ومجاهد: (إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعاً فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام) ، وفي بعض الروايات “من يوم دفن الميت” –

 

Dari Imam Thawus bin Kaysan dari Ubaid Bin Amir dan Mujahid “Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan bersedekah makanan dari keluarga yang meninggal selama tujuh hari tersebut.” dan di sebagian riwayat disebutkan dengan perkataan “dari hari dikuburnya si mayyit)

 

Riwayat di atas menjelaskan bahwa tradisi selamatan selama tujuh hari dan membacakan Alqur’an kepada orang mati telah berjalan sejak generasi sahabat Nabi SAW. Sudah barang tentu, para sahabatdan generasi salaf tidak mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-orang Hindu tidak ada di jazirah Arab

 

Sementara selamatan 7 hari juga telah ada semenjak zaman kaum Salaf  Sholeh, tepatnya ketika Syeikh Nasr Bin Ibrahim Al Muqoddas meninggal pada tanggal 9 Muharram 409 H.

Berikut terdapat riwayat yang tertulis di kitab Al Hawi lil Fatawa Imam Suyuthi juz 2 hal 183

 

وقال الحافظ السيوطي أيضا: في كتابه الحاوي للفتاوي- ورأيت في التواريخ كثيرا في تراجم الأئمة يقولون: وأقام الناس علي قبره سبعة أيام يقرأون القرآن ، وأخرج الحافظ الكبير أبو القاسم بن عساكر في كتابه المسمي: (تبين كذب المفتري فيما نسب إلي الإمام أبي الحسن الأشعري) ، سمعت الشيخ الفقيه أبا الفتح نصر الله بن محمد بن عبد القوي المصيصي يقول: توفي الشيخ نصر بن إبراهيم المقدسي في يوم الثلثاء التاسع من المحرم سنة تسعين وأربعمائة بدمسق ، وأقمنا علي قبره سبع ليال نقرأ كل ليلة عشرين ختمة . إهـ.

 

Dan berkata Al Hafid As Suyuthi di kitab beliau Al Hawii Lil Fatawa “saya mendengar bahwa ahli Fiqih Abul Fath Nasrullah Bin Muhammad Bin Abdul Qowiy Al Musishi berkata: telah meninggal Syeikh Nasr Bin Ibrahim Al Muqoddasy pada hari selasa tanggal 9 Muharrm tahun 409 H di Damaskus (syiria) dan kita membacakan Al Qur’an diatas quburnya selama 7 malam, dalam semalam kita membaca 20 kali khataman Qur’an

 

Dan juga perkataan Imam Suyuthi bahawasanya bershodakoh makanan sampai 7 hari juga pernah berlangsung di Makkah dan Madinah semenjak masa sahabat dan masih berlangsung di zaman Imam Suyuthi hidup:

 

قال الحافظ السيوطي: أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني أنـها مستمرة إلي الآن بمكة والمدينة ، فالظاهر أنـها لم تترك من عهد الصحابة إلي الآن ، وأنـهم أخذوها خلفا عن سلف إلي الصدر الأول .

Berkata Imam Al Hafid As Suyuthi: bahwasanya kesunnahan memberi makan selama 7 hari telah sampai kepada saya bahwasanya telah berlangsung terus menerus sampai sekarang di makkah dan madinah, maka dhohirnya belum ditinggalkan dari masa sahabat sampai sekarang, dan bahwa mereka mengambilnya dari kaum salaf sampai masa pertama. (Al Hawi lil fatawa juz 2 hal 183)

 

Dari ketiga riwayat diatas dapat kita ketahui bahwa bershodaqoh makanan dan membacakan Al Qur’an untuk orang mati selama 7 hari telah ada semenjak zaman sahabat Nabi dan kaum Salaf Sholeh, sementara mereka yang menuduh acara selamatan ini warisan Agama Hindu tidak dapat menunjukkan bukti terpercaya dari naskah rujukan.

 

Toh jika seandainya ritual ini meniru adat Hindu, amalan ini sungguh sangat berbeda dengan mereka, dimana mereka ketika selamatan 3,7, 40, 100 dan 1000 melakukan kemungkaran dan membakar menyan untuk arwah, sementara dalam Islam tradisi itu tidak ada, yang ada adalah baca’an Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan baca’an Al Qur’an yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan jelas sekali bahwa berdzikir tersebut sesuai dengan tuntunan Qur’an dan Hadits Nabi. Sementara hidangan makanan untuk arwah diganti dengan shodaqoh untuk para hadirin, dengan berkumpul berdzikir bersamapun kerukunan bermasyarakat menjadi semakin erat, dan ukhuwah umatpun semakin kuat. Rasulullah S.A.W bersabda:

 

من أحب أن يبسط له فى رزقه وينسأ له فى أثره فليصل رحمه

Barang siapa yang menginginkan dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya dia menyambung tali silaturahim.

 

Hadits dan ayat al Qur’an tentang keutamaan berzikir yang kami bahas di bab sebelumnya bersifat ‘aam, dalam artian boleh dilaksaakah kapan saja , tak terkecuali dilaksanakan pada malam ke 7, 40, 10, 100 dst. Hal ini kita kembalikan kepada masalah istishabul ‘aam, yaitu kita mengamalkan dalil yang bersifat ‘aam / umum sampai ada dalil yang men-takhsish/ mengkhususkan.

 

contoh:  perintah berdzikir dalam Al Qur’an dan Hadits adalah ‘aam / umum, tidak ada satupun hadits atapun Ayat Al Qur’an yang menyebutkan berdzikir terikat waktu waktu tertentu, perintah tahlil datang secara ‘aam umum, dalam hal ini bermakna boleh berdzikir kapanpun. keculai ada dalil yang mengindikasikan bahwa berdzikir harus dilakukan pada waktu waktu tertentu, dan yang seperti itu tidak ada.

 

Jika saudara saudaraku masih bingung dengan pembahasan dalil yang bersifat ‘aam dan khoosh, berikut kami berikan contoh dalil ‘aam (umum) tidak ada yang men-takhsish (mengkhususkan), dan dalil ‘aam namun ada yang men-takhsish.

 

1. Dalil ‘aam namun ada yang men-takhsish

Al Qur’ansuratAl ‘Ashr ayat 2

ان الانسان لفي خسر

Sesungguhnya manusia itu berada dalam keadaan merugi.

Ayat ini ditakhsis / dikhususkan dengan ayat setelahnya yang berbunyi:

الا الذين امنوا وعملو الصالحات وتواصو با الحق وتواصو با الصبر

Kecuali orang orang beriman, beramal sholeh, dan saling menyeru dengan kebenaran dan saling menyeru dengan kesabaran

 

Kesimpulan hukum dari kedua ayat diatas: manusia yang merugi adalah manusia yang tidak beriman dan tidak menyeru dengan kebenaran dan kesabaran.

 

Andaisaja ayat ke 2 tidak ada / tidak pernah diturunkan maka kesimpulan hukumnya adalah : orang kulit hitam, kulit putih, orang Asia, Afrika, Eropa, Australia, Amerika, kemudian orang kafir, orang muslim, beriman ataupun tidak mereka semua berada dalam keadaan merugi.

 

2. Dalil ‘aam dan tidak ada yang men-takhsish

Adalah dalil dalil tentang keutama’an berdzikir, bershodaqoh, dan membaca Al’Quran yang telah kita sebutkan di bab sebelumnya, perintah berdzikir tidak terikat waktu, dan boleh dilaksanakan kapan saja,  jika tidak ada dalil yang men-takhsis atau tidak ada dalil yang melarang berdzikir pada hari ke 7, hari ke 100, hari ke 1000 dsb, maka hukum bershodaqoh, berdzikir, dan membaca Al Qur’an dihari hari tersebut adalah boleh, bahkan boleh berdzikir dimanapun dan kapanpun, walaupun seumur hidupnya digunakan untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an. Karena dalil- dalil berdzikir bersifat ‘aam dan tidak ada yang men-takhsish. Demikian seperti yang dijelaskan dalam ilmu ushul fiqh, bab ‘aam dan Khosh

 

Saudara saudara kita berkiliah bahwasanya berdzikir pada hari ke 7-40-100-1000 tidak boleh, karena Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkannya. Jawaban Kami: pada pembahasan bab 1 tentang bid’ah telah kita kupas mengenai perbedaan antara mereka dan kami dalam menafsiri kata “amr” mereka yang menafsiri kata “amr” sebagai “perintah” sementara kami menafsirinya sebagai “perkara” produk fatwa mereka adalah Tahlilan Haram hukumnya karena tidak pernah diperintahkan Rasulullah, sementara Fatwa Kami adalah: Tahlilan sunnah karena isi didalamnya adalah perkara -perkara yang sesuai dan tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

——————————————————————

Menurut waktu jenis ibadah dibagi menjadi 2, ibadah yang terikat oleh waktu dan ibadah yang tidak terikat oleh waktu, ibadah yang terikat oleh waktu harus dikerjakan diwaktu yang telah ditentukan, seperti Sholat 5 waktu, Puasa Ramadhan, dan Haji,. Sholat Maghrib tidak boleh dilaksanakan ketika siang hari, Sholat Shubuh tidak boleh dilaksanakan disore hari, haji harus dilaksanakan di bulan Dzulhijjah dsb,

 

Adapun ibadah ibadah yang tidak terikat oleh waktu maka boleh dilakukan kapan saja,  seperti bershodaqoh, membaca alqur’an, bertasbih, bertahlil, dan bersholawat kepada Nabi SAW. Tak terkecuali tahlilan, boleh dilakukan kapan saja meskipun itu dihari ke 40 ke 100 dan ke 1000 karena dalil yang menunjukkan keuatamaan bertasbih, bertahlil dan membaca Al Qur’an bersifat ‘aam (umum) dan tidak terikat waktu.

 

  1. Pembahasan Hadits ““Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”

 

Di bab sebelumnya tentang pembagian Bid’ah kita telah membahas bahwa perbedaan pendapat antara kita dengan saudara- saudara kita yang menolak tahlilan adalah perbedaan pendapat dalam sudut pandang, tentang apakah yang dianggap dalam sebuah amalan? bungkus ataukah isinya? nama atau praktek di dalamnya?

 

Bagi saudara- saudara kita yang menganggap tahlilan dari bungkusnya/ dari namanya, maka amalan ini adalah amalan orang -orang Hindu, dan merupakan warisan dari Agama Hindu, maka Hadits ini berada dalam konteks amalan ini, yaitu tahlilan adalah menyerupai orang orang Hindu, dan Rasulullah melarang umatnya menyerupai orang orang kafir. Adapun benar tidaknya amalan ini datang dari Hindu telah kita bahas diatas.

 

Namun kita berpendapat bahwa yang dianggap dalam sebuah amalan ibadah adalah isinya dan praktek di dalamnya. Maka hadits ini tidak berlaku dan diluar konteks amalan kami, karena isi dari tahlilan adalah berdzikir, bertasbih, membaca Al Qur’an dan bershodaqoh, apakah praktek- praktek ibadah dalam tahlilan menyerupai orang orang hindu? Jelas berbeda, maka Hadits diatas diluar konteks tahlilan. Karena amalan amalan di dalam tahlilan sesuai dengan Syariat Islam.

BAB V, APAKAH HIDANGAN MAKANAN DALAM TAHLILAN DILARANG?

Saudara- saudara kita yang menolak Tahlilan berpendapat bahwa menghidangkan makanan dalam Tahlilan dilarang, karena memberatkan keluarga si mayyit yang sedang berduka.Parasahabat dan para Ulama’ terdahulu melarang hidangan makanan yang dihidangkan oleh keluarga si mayyit untuk para tamu.

 

Pendapat mereka diatas berlandaskan pada Atsar Shohabah Jarir Bin Abdullah dan juga kutipan dari perkataan beberapa Ulama’ salaf sebagaimana berikut:

 

1. Atsar Jarir Bin Abdullah di Kitab Ihda’ud Dibaajah Juz 2 hal 297 terbitan Maktabah Darul Yaqin.

 

عن جرير بن عبد الله قال كنا نرى الإجتماع إلى أهل الميت و صنعة الطعام من النياحة

 

Dari Jarir Bin Abdullah Berkata : kita melihat bahwasanya berkumpul di ahli mayyit dan menghidangkan makanan adalah bagian dari ratapan

 

2. Perkataan Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mughni ( Juz 3 hal 496-497 ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin at Turki):

 

.   فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه, لأن فيه زيادة على مصيبتهم, وشغلا لهم الى ِشغلهم وتشبها بصنيع أهل الجاهلية. وروي أن جريرا وفد على عمر, فقال: هل يناح على ميتكم؟ قال لا, قال فهل يجتمعون عند أهل الميت, ويجعلون الطعام؟ قال نعم. قال ذاك النوح.

 

 

“Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci. Karena akan menambah (kesusahan) di atas musibah mereka dan menyibukan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai perbutan orang-orang jahiliyah.

 

Dalil yang melandasi perkataan Ibnu Qudamah adalah atsar Sahabat Jarir bin Abdullah yang tertera pada no 1.

 

4. Perkataan Imam Syafi’ie dalam kitab Al Umm Juz 1 hal 318

 

Imam Syafi’i berkata: “Aku benci Al-Ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”

Dan lagi, perkataan Imam Syafi’ie ini juga berlandaskan atas Atsar Jarir bin Abdullah

 

Jadi keseluruhan pendapat Ulama’ tentang dibencinya hidangan pada ahli mayyit berlandaskan Atsar Jarir bin Abdullah, sementara tidak ada Hadits yang melarang hidangan makanan disaat Ta’ziyah, yang ada justru Hadits hadits yang menjelaskan bahwa praktek hidangan makanan dalam Ta’ziyyah dibolehkan

 

JAWABAN  KAMI:

 

Dibawah ini kami sebutkan Hadits Rasulullah dan Atsar Shohabah yang menjelaskan bahwa Rasulullah dan sahabat pernah makan dan menghidangkan makanan dalam acara kematian:

 

Dari kitab Sunan Abi Daud no. 3332 ; As-Sunanul Kubrra lil-Baihaqi no. 10825 ; Musnad Imam Ahmad juz 5 hal 293-294. sunan Darul Qutny juz 4 hal 685 yang berbunyi sebagai berikut:

 

عن عاصم ابن كليب عن أبيه عن رجل من الأنصار: قال خرجت مع رسول الله صلي الله عليه وسلم في جنازة فرأيت رسول الله صلي الله عليه وسلم وهو على القبر يوصى الحافر يقول أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه  فلما رجعنا إستقبله داعي إمراته فأجاب ونحن معه فجيئ بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا فنظرنا إلى رسول الله صلي الله عليه وسلم يلوك لقمة في فيه ثم قال أجد لحم شاة أخذت بغير إذن أهلها فأرسلت المرأة تقول يا رسول الله إني أرسلت ألى النقيع وهو موضع يباع فيه الغنم ليشترى لي شاة فلم توجد فأرسلت إلى جارلي قد اشترى شاة أن يرسل بـها إليّ بثمنها فلم يوجد فارسلت إلى إمراته فار سلت إليّ بـها فقال رسول الله صلي الله عليه وسلم أطعمي هذا الطعام الأ سرى

“Kami keluar bersama Rasulullah SAW. pada sebuah jenazah, maka aku melihat Rasulullah SAW berada diatas kubur berpesan kepada penggali kubur : “perluaskanlah olehmu dari bagian kakinya, dan juga luaskanlah pada bagian kepalanya”, Maka tatkala telah kembali dari kubur, seorang wanita mengundang (mengajak) Rasulullah, maka Rasulullah datang seraya didatangkan (disuguhkan) makanan yang diletakkan dihadapan Rasulullah, kemudian diletakkan juga pada sebuah perkumpulan (sahabat), kemudian dimakanlah oleh mereka. Maka ayah-ayah kami melihat Rasulullah SAW  makan dengan suapan, dan bersabda: “aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya”. Kemudian wanita itu berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengutus ke Baqi’ untuk membeli kambing untukku, namun tidak menemukannya, maka aku mengutus kepada tetanggaku untuk membeli kambingnya kemudian agar di kirim kepadaku, namun ia tidak ada, maka aku mengutus kepada istrinya (untuk membelinya) dan ia kirim kambing itu kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “berikanlah makanan ini untuk tawanan”.

 

Dari kitab Fathul Barijuz 1 hal 146, kitab Taaj El Jami’ Lil Ushul juz 3 hal 208. yang berbunyi sebagai berikut:

 

عن عائشة رضى الله عنها:  أنـها كانت إذا مات الميت من أهلها فاجتمع لذلك النساء ثم تفرقن إلا أهلها وخاصتها  أمرت ببرمة من تلبينة  فطبحت ثم صبت على ثريد ثم قالت كلن.  رواه الشيخان

 

Dari Aisyah RA. Sesungguhnya dia (aisyah) tatkala ada salah seorang dari pihak keluarganya yang meninggal maka wanita wanita tetangganya berkumpul dirumahnya kemudian mereka bubar kecuali keluarganya maka ia (aisyah) memerintahkan untuk memasak “talbinah”  kemudian dituangkan diatas bubur kemudian berkata: makanlah, (HR Bukhori Muslim)

 

Hadits yang Diriwayatkan Oleh Thabrani Dalam kitab Al Kabir lihat Di Mujamma’ Az Zawaid Dan Manba’ Al Fawaid Lil oleh Hafid Nuruddin Ali bin Abi Baker Al Haytsami juz 3 hal 5 yang berbunyi sebagai berikut:

 

عن مريم بنت فروة: أن عمران بن حصين لما حضرته الوفاة قال إذا أنامت فشدوا على بطنى عمامة وإذا رجعتم فا نحروا وأطعموا

 

Dari Maryam Binti Farwah, bahwa Imran Bin Hushoin tatkala meninggal berkata : jikalau aku telah mati, maka ikatlah diatas perutku surban dan jikalau kalian kembali maka berkorbanlah (menyembelih hewan) dan bersedekahlah dengan itu.

Hadits yang diriwayatkan oleh  Al-Imam Ahmad dalam Al-Zuhd, Al-Hafizh Abu Nu’aim, dalam Hilyah al-Auliya juz 2, hal.12  dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5, hal. 330, dari kitab Al Hawi Lil Fatawa Lil Hafidz As Suyuthi juz 2 hal 168.

 

عن طاووس بن كيسان وعن عبيد بن عمير ومجاهد: (إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعاً فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام) ، وفي بعض الروايات “من يوم دفن الميت”

 

Dari Imam Thawus bin Kaysan dari Ubaid Bin Amir dan Mujahid “Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan bersedekah makanan bagi keluarga yang meninggal selama tujuh hari tersebut.” dan di sebagian riwayat disebutkan dengan perkataan “dari hari dikuburnya si mayyit)

 

Dari Kitab Al Mathalib Al Aliyah juz 1 hal 198-199

 

عن أحنف بن قيس: كنت أسمع عمر يقول لايدخل أحد من قريش في باب إلا دخل معه ناس فلا أدري ما تأويل قوله حتي طعن عمر فأمر صهيبا أن يصلى بالناس ثلاثا وأمر بأن يجعل للناس طعاماً فلما رجعوا من الجنازة جاءوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي همّ فيه فجاء العباس بن عبد المطلب فقال: ياأيها الناس قد مات رسول الله صلي الله عليه وسلم فأكلنا بعده وشربنا ومات أبوبكر فأكلنا بعده وشربنا أيها الناس كلوا من هذا الطعام فمد يده ومد الناس أيديهم فأكلوا رفت تأويل ذلك

Dari Ahnaf Bin Qays: saya mendengar Umar RA berkata: tidak akan masuk seseorang dari kaum Quraisy dari pintu kecuali masuk bersamanya orang orang, maka saya tidak tahu apa arti perkataanya sampai umar menikam, maka dia memerintahkan shuhaib untuk mensholati dengan orang orang tiga kali dan memerintahkan orang orang untuk menghidangkan makanan, maka tatkala kembali dari janazah mereka dating dan telah disiapkan meja meja, maka dia menahan orang orang dari kesedihan yang telah menimpa mereka, maka dating Abbas Bin Abdul Mutholib seraya berkata: “wahai manusia telah meninggal Rasulullah SAW dan kita makan dan minum setelahnya, dan telah meninggal Abu Bakar RA. Dan kita makan dan minum sesudahnya, wahai manusia makanlah dari makanan makanan ini, maka dia mengulurkan tangannya dan orang orang mengulurkan tangan tangan mereka, maka mereka makan dan saya tahu apa arti dari itu semua

Berikut kami paparkan Perkataan ulama’- ulama’ salaf tentang hidangan makanan selama 7 hari

 

Dari kitab Tuhfah Al Minhaj juz 3 hal 207 – 208.

 

قال الإمام النووي: في كتابه المنهاج (و- يسن- لجيران أهله تـهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم ويحرم تـهيئته للنائحات)

Imam Nawawi berkata dalam kitabnya Al Minhaj: dan disunnahkan bagi tetangga si ahli mayyit untuk menghidangkan makanan yang mengenyangkan di siang hari dan malam harinya, dan diharamkan menghidangkan makanan bagi para peratap.

 

قال شارحه إبن جحر الهيتمي في تحفة المحتاح: لأنه إعانة علي معصية ، وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس عليه بدعة مكروهة

 

dan berkata pen-Syarah  kitab ini Ibnu Hajar Al Haytami dalam kitab Tuhfah Al Muhtaj: karena menghidangkan makanan bagi para peratap adalah maksiat, dan hal yang seperti itu telah menjadi kebiasaan / adat kaum jahiliyah menghidangkan makanan yang bertujuan untuk mengundang orang orang supaya berkumpul semata dirumahnya adalah bid’ah yang dibenci.

 

Perhatikan kata “ untuk mengundang orang orang untuk berkumpul semata dirumahnyayang dimaksudkan disini adalah  hanya berkumpul semata karena ada makanan, dan yang seperti itu adalah adapt kaum jahiliyah.

 

Dari kitab Al Hawi Lil Fatawa juz 2 hal 183, Imam Suyuthi berkata:

 

قال الحافظ السيوطي: أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني أنـها مستمرة إلي الآن بمكة والمدينة ، فالظاهر أنـها لم تترك من عهد الصحابة إلي الآن ، وأنـهم أخذوها خلفا عن سلف إلي الصدر الأول

Berkata imam Al Hafid As Suyuthi: bahwasanya kesunnahan memberi makan selama 7 hari telah sampai kepada telah berlangsung terus menerus sampai sekarang di Makkah dan Madinah, maka dhohirnya belum ditinggalkan dari masa Sahabat sampai sekarang, (masa Imam Suyuthi) dan bahwa mereka mengambilnya dari kaum salaf sampai zaman pertama

 

Dari pemaparan kami diatas tentang Hadits, Atsar Sahabat, kita mendapat bahwasanya dalil kami yang membolehkan hidangan dalam acara kematian bertentangan dengan Atsar Jarir Bin Abdullah yang melarang hidangan dalam kematian. “kita melihat bahwasanya menghidangkan makanan dalam ahli mayyit adalah bagian dari ratapan Lantas bagaimana sikap kita terhadap kedua dalil yang bertentangan ini? Menurut ilmu Mustholah Hadits, jika ada 2 dalil yang bertentangan jika memungkinkan untuk dikumpulkan (jama’) maka dalil tersebut harus dikumpulkan (dijama;), Berikut keterangan dari Syeikh Abdul Qodir Syeikh Muhammad Matan dalam kitab Al Bayan Fi Ahkamil Mauta Wal Qubur cetakan moqdisyo Somalia tahun 2006 tentang mengumpulkan (jama’) antara dalil kami dan Atsar Jarir bin Abdullah

 

أمـّا المنع الوارد: في حديث جرير بن عبد الله البجلي (كنا نعد الإجتماع لأهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة) رواه أحمد وابن ماجه ، فمخصوص في تـهيئة الطعام للنائحات أو لقصد مجرد الإجتماع للطعام أو للمعزين فقط ، أو من تركة الميت قبل قسمتها ، لا لقصد التصدق عن الميت التي أجمعت عليه الأمة بغير قيد بوقت معين ، بل في كل وقت وحين عقب الدفن أو بعده ، ومعلوم كما تنص القاعدة المشهورة (أن الأمور بمقاصدها) لقوله صلي الله عليه وسلم ( إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرإ ما نوي) رواه الشيخان وأصحاب السنن .

 

Adapun larangan yang terdapat dalam atsar Jarir Bin Abdullah (kita melihat bahwasanya berkumpul pada ahli mayyit dan menghidangkan makanan adalah bagian dari ratapan)  dikhususkan hanya untuk makanan yang dihidangkan untuk para peratap, atau hanya untuk berkumpul kumpul karena makanan, atau diambil dari harta warisan si mayyit sebelum dibagi, bukan dengan maksud shodaqoh dari mayyit yang telah di ijma’kan oleh umat tentang kesunnahannya tanpa terikat waktu., bahkan setiap waktu meskipun itu sesudah dikuburkannya mayyit atau belum. Dan sebagaimana qaidah yang berlaku, (segala perkara adalah tergantung niatnya) berdasarkan sabda Rasulullah SAW. “Bahwasanya segala amal perbuatan itu adalah tergantung pada niatnya)

 

Kesimpulannya hokum dari metode Mengumpulkan dua dalil yang bertentangan diatas::

Menghidangkan makanan dalam acara kematian Jika diniati shodaqoh dan pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit hukumnya sunnah  dasar hukumnya adalah Hadits Nabi, Atsar Sahabat, dan perkataan ulama yang tersebut pada dalil dalil kami, namun menghidangkan makanan jika diniati untuk para peratap, untuk mengundang tetangga dan supaya berkumpul semata seperti adat kaum jahiliyyah. Maka hal ini jelas tidak boleh dasar hukumnya adalah dalilnya saudara kita yaitu atsar Jarir Bin Abdullah, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Nawawi diatas.

 

Demikianlah hasil jama’ (mengumpulkan) antara kedua dalil yang bertentangan, sebagaimana dalam ilmu Mustholah Hadits, jikalau ada dua hadits yang bertentangan maka jika memungkinkan maka dua hadits tersebut harus di Jama’ (dikumpulkan/digabung jadi satu) namun jika tidak mungkin, maka harus diketahui mana yang Nasikh dan mana yang Mansukh, dan jikalau tidak mungkin maka didahulukan Ayat Al Qur’an, baru Hadits Mutawatir, kemudian Hadits Shohih, Hadits Hasan dst. Sementara dari pemaparan diatas jelas bahwasanya atsar Jarir Bin Abdullah dan Hadits Nabi diatas mungkin untuk dikumpulkan sebagaimana yang anda lihat diatas.

 

Jika saudaraku masih bingung tentang kaidah mengumpulkan dua Hadits yang bertentangan dibawah ini kami berikan contoh hukum Syariat Islam yang disarikan dari mengumpulkan dua hadits yang bertentangan:

 

  1. Rasulullah melarang umatnya buang air besar / kecil menghadap atau membelakangi kiblat, sementara ada hadits yang menunjukkan bahwasanya Rasulullah pernah buang air besar / kecil dengan menghadap atau membelakangi kiblat namun di tempat tertutup. Kesimpulan hukum: dilarang buang air menghadap atau membelakangi kiblat ditempat terbuka, dan boleh buang air menghadap atau membelakangi kiblat di tempat tertutup seperti di Wc / Toilet
  2. Atsar Jarir bin Abdullah melarang hidangan makanan dalam kematian karena yang seperti itu adalah bagian dari ratapan dan adat kaum Jahiliyyah, sementara ada Hadits Nabi dan Atsar Sahabat lain yang menunjukkan bahwa mereka juga pernah menghidangkan makanan dalam acara kematian, kesimpulan hokum : Haram menghidangkan makanan bagi para peratap dan semata mengundang orang orang supaya berkumpul dirumahnya guna meratapi si mayyit sebagaimana adat jahiliyah, dan sunnah menghidangkan makanan jika diniati sodaqoh dan pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit, dan mengundang untuk mendoakan si mayyit.

BAB VI, PERBEDAAN METODE

Dalam Bab ini akan kami bahas mengenai metode “istimbath” / penyimpulan hukum yang mereka gunakan ketika bermuamalah dengan Atsar, Hadits dan ayat Al Qur’an. Metode yang dipakai oleh saudara- saudara kita berbeda dengan metode kami, maka wajar saja jika produk fatwa mereka pun berbeda dengan kami. Perbedaan ini dapat kita simpulkan kedalam beberapa point mendasar.

  1. Mereka tidak mengenal metode- metode yang kami gunakan, seperti metode mengumpulkan antara satu dalil dengan dalil lainnya, metode ‘aam dan khoosh, metode mengumpulkan 2 Hadits yang bertentangan, dan metode- metode yang digunakan oleh Juhur Ulama’ contoh :
    1. Dalam Bab pembagian bid’ah, mereka memaknai bahwa semua bid’ah sesat karena memang teks dalilnya mengatakan semua bid’ah sesat, kemudian enggan mengkaji Hadits -Hadits yang mengindikasikan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Maka hasil fatwa mereka adalah semua bid’ah sesat. Sementara kami mengkaji dalil- dalil yang berkaitan dengan bid’ah, kemudian kami kaitkan antara dalil satu dengan dalil yang lain, dan hasilnya tidak semua bid’ah sesat.
    2. Mereka tidak mengenal dalil- dalil yang bersifat ‘aam dan khoosh, seperti pada pembahasan bab larangan berdzikir di hari ke 7-40-100-1000, maka produk fatwa mereka mengharamkan berdzikir di hari hari tersebut karena tidak ada dalil -dalil yang memerintahkannya. sementara kami melihat ke “umuman” dalil perintah berdzikir yang tidak terikat waktu, maka boleh berdzikir kapanpun dan dimanapun tak terkecuali di hari hari 7-40-100-1000
    3. Mereka tidak mengenal metode mengumpulkan 2 hadits yang bertentangan, seperti dalam pembahasan hidangan untuk mayyit, yang dimana fatwa mereka haram hidangan untuk tamu undangan dalam acara kematian. Sementara kami mengumpulkan antara Hadits yang mengharamkan hidangan dalam takziyah dan hadits yang membolehkannya, maka fatwa kami adalah : Haram menghidangkan makanan bagi para peratap dan semata mengundang orang -orang supaya berkumpul dirumahnya guna meratapi si mayyit sebagaimana adat jahiliyah, dan Sunnah menghidangkan makanan jika diniati sodaqoh dan pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit, dan mengundang untuk mendoakan si mayyit.
    4. Mereka melihat hakekat amalan bukan pada isinya, namun pada bungkusnya, sementara kami melihat hakekat amalan dari isinya, dan bukan bungkusnya. Maka perbedaan sudut pandang ini pula menjadikan perbedaan produk fatwa diantara mereka dan kami.
      1. Contoh dari perbedaan metode ini adalah amalan Tahlilan sendiri, mereka menuduh amalan ini syirik karena menyerupai agama hindu, karena selamatan 7-40-100-1000 adalah murni warisan dari agama hindu, sementara kami melihat suatu amalan dari isinya, isi dari tahlilan adalah berdzikir, membaca AL Qur’an, dan bershodaqoh makanan yang kesemuanya itu sesuai dengan nafas nafas islami.
      2. Mereka berpendapat bahwa semua hal baru dalam Agama yang tidak pernah diperintahkan Rasulullah S.A.W adalah sesat,  karena mereka menafsiri kata “amr” dalam hadits من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد, sebagai “perintah” maka makna hadits diatas menurut saudara saudara kita adalah: “barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak” dan  hasil produk fatwa mereka adalah: amalan amalan yang tidak pernah diperintahkan Allah dan Rasulullah adalah bid’ah sesat, meskipun amalan baru tersebut membawa maslahat umat.

Sementara kami menafsiri kata “amr” dalam Hadits diatas sebagai “perkara” karena memang hadits- hadits yang berkaitan dengan hadits diatas, kata “amr” didalamnya bermakna “perkara” sebagaimana pembahasan yang telah kita kupas pada bab pembagian bid’ah, maka tafsiran menurut kami adalah: perkara perkara yang tidak terdapat dalam Syariat Islam dan perkara tersebut bertentangan dengan Syariat Islam, perkara tersebut adalah bid’ah sesat. Adapun perkara perkara yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam tidak termasuk kedalam bid’ah yang sesat

  1. Mereka melupakan kaidah ilmu fiqih yang berbunyi “sebuah ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad yang lainnya”  atau kata lainnya adalah: “sebuah kesimpulan hukum yang disarikan dari Al Qur’an dan Hadits, tidak bisa membatalkan kesimpulan hukum lain yang disarikan dari Al Qur’an dan Hadits juga,  sebuah kaidah yang kami pegang teguh dalam menghargai perbedaan pendapat. Karena tidak mengenal kaidah kami Maka produk fatwa mereka adalah “semua yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka adalah pemahaman salah,  menyimpang, dan perlu diluruskan, jika perlu diperangi” sementara kami tidak pernah menuduh kelompok yang berbeda pemahaman dengan kami sebagai kelompok sesat selama mereka mengamalkan rukun Islam, rukun Iman, dan tidak saling mengkafirkan sesame muslim.

Demikin buku kecil ini semoga mampu memberi wawasan kepada sahabat sahabatku sekaian, dan supaya kita tidak pernah terjebak dalam sikap bodoh saling mensyirikkan, saling mengkafirkan sesama muslim, jika umat muslim disibukkan dengan ini maka tunggu saja waktu dimana umat yang tidak berTuhan mengobrak abrik umat yang berTuhan kepada Allah tanpa ikut campur didalamnya. Mari kita tunjukkan bahwa umat yang bertuhan kepada Allah lebih cerdas daripada mereka yang tidak berTuhan.

 

Hal Hal Yang Hendakny Diperhatikan Dalam Yasinan, dan Tahlilan

 

  1. Bahwa mengadakan acara Tahlilan di hari ke 7, 40, 100, 1000 ataupun menghidangkan makanan didalamnya TIDAK WAJIB namun SUNNAH, maka hendaknya bagi saudara- saudaraku yang tidak mampu melaksanakannya untuk tidak memaksakan hingga merasa terbebani, karena dalam Islam tidak ada paksaan beribadah yang besifat sunnah, ataupun bagi yang kurang mampu namun tetap ingin melaksanakannya hendaknya dengan hidangan makanan sekedarnya saja dan tidak berlebih lebihan.
  2. Hendaknya menghindari kegiatan- kegiatan yang tidak sesuai dengan Syariat Islam dalam acara ini, semisal berjudi, minum- minuman keras, ataupun bakar kemenyan dengan maksud mengundang arwah, karena hal hal diatas jelas bertentangan dengan Syariat Islam.
  3. Bagi para hadirin hendaknya menghibur Ahli Mayyit supaya tidak bersedih, dan lebih baik lagi di dalamnya disisipkan ceramah siraman rohani dari seseorang yang dihormati guna mempertebal Iman hadirin dan sebagai hiburan untuk Ahli Mayyit.
  4. Hendaknya para tetangga Ahli Mayyit turut serta mempersiapkan dan membantu keperluan acara ini semisal memasak, berbelanja dsb. Karena hal hal tersebut termasuk tolong menolong yang sangat dianjurkan Islam, terlebih Ahli Mayyit sedang dirundung duka akibat kehilangan salah satu anggota keluarganya.

Mengkhatamkan Al Qur’an Untuk Mayyit

LAMPIRAN FATWA DARI DARUL IFTA’ MESIR

 

No Urut                       : 448

Judul                           : Mengkhatamkan Al Qur’an untuk mayyit

Tanggal Jawaban         : 7 juli 2006

 

Memperhatikan permintaan fatwa no 95 tahun 2006 yang berisi:

 

Sebagian masyarakat, terutama di pedesaan Mesir biasa melakukan acara mengkhatamkan Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya untuk mayyit, biasanya mereka melakukan acara ini tiga hari setelah hari kematian, apa hukum perbuatan tersebut? apakah pahala baca’an itu dapat sampai kepada mayyit?

 

Jawaban:

Membaca Alquran merupakan salah satu ibadah terbaik yang dilakukan seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perintah syariat yang menerangkan perintah membaca Alquran ini dinyatakan dalam bentuk yang mutlak (tanpa batasan tertentu). Dan sebagaimana ditetapkan dalam ilmu Ushul Fikih, keumuman perintah menghendaki keumuman penerapannya, baik dari sisi tempat, waktu, ataupun keadaan, kecuali dalam beberapa hal yang dikecualikan oleh syariat atau memiliki batasan-batasan tertentu. Oleh karena itu, membaca Alquran untuk mayit, baik sebelum maupun sesudah wafatnya, di rumah maupun di masjid, di kuburannya atau di tempat lain, juga ketika prosesi penguburan atau setelahnya, adalah dibolehkan. Tidak ada larangan sama sekali dalam hal ini berdasarkan ijmak para ulama. Hanya saja, sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa membaca Alquran di atas kuburan adalah makruh. Namun, Syaikh ad-Dardir r.a. berkata, “Paraulama Malikiyah belakangan berpendapat bahwa tidak apa-apa membaca Alquran dan zikir lalu menghadiahkan pahalanya untuk mayit. Mayit itu insyaallah akan mendapatkan pahalanya.”

Sejumlah ulama dari berbagai mazhab telah menulis beberapa buku berkaitan dengan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Abu Bakar al-Khallal (311 H) (salah seorang ulama Hambali) dalam Bab Membaca Alquran di atas Kubur dalam kitabnya al-Jâmi’. Al-Hafizh Syamsuddin bin Abdul Wahid al-Maqdisi (juga salah seorang ulama Hambali) pun menulis sebuah kitab khusus mengenai masalah ini. Begitu juga, al-Hafizh Sayyid Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari (1413 H) dalam kitabnya Tawdhîh al-Bayân li Wushûl Tsawâb al-Qurân, dan para ulama lainnya.

Di antara dalil yang menjelaskan kebolehan ini adalah:
1. Hadits Ma’qal bin Yasar r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda,

اقْرَءُوا (يس) عَلَى مَوْتَاكُمْ
Bacakanlah surat Yâsîn atas orang-orang yang meninggal diantara kalian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

Hadits ini mencakup pembacaan ketika dalam keadaan sakaratul maut dan setelahnya.

2. Ibnu Umar r.a., dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ، وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ، وَليُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُـوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ
Jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka janganlah kalian menahannya. Segeralah membawanya ke kuburan. Dan hendaknya dibacakan surat al-Fatihah di bagian kepalanya dan akhir surat al-Baqarah di bagian kedua kakinya setelah di kubur.” (HR. Thabrani dan Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân).

Sanad hadits ini, sebagaimana dijelaskan oleh Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bârî, adalah hasan. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi: “membaca awal surat al-Baqarah”, sebagai ganti “membaca surat al-Fatihah”.

Begitu juga diriwayatkan secara shahih dari Ibnu Umar r.a. bahwa ia berwasiat jika ia dikuburkan agar dibacakan padanya awal dan akhir surat al-Baqarah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh al-Khallal, dishahihkan oleh Ibnu Qudamah dan dihasankan oleh Nawawi.

3. Hadits Anas r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يس، خَفَّفَ اللهُ عَنْهُمْ، وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِ مَنْ فِيْهَا حَسَنَاتٌ
Barang siapa yang masuk ke pekuburan dan membaca surat Yâsîn, maka Allah akan meringankan siksa atas mereka. Dan ia pun akan memperoleh banyak kebaikan sejumlah orang yang dikubur di sana.” (HR. Abdul Aziz, murid al-Khallal, dan disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughnî).

Perbedaan pendapat dalam masalah ini tidaklah kuat. Yang kuat adalah pendapat ulama yang menganjurkan dan membolehkan membaca Alquran untuk mayit. Bahkan, sebagian ulama secara tegas berpendapat bahwa masalah ini masalah yang disepakati oleh semua ulama (ijmak). Salah satu ulama yang menyatakan hal itu adalah Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi (salah seorang ulama Hambali) yang berkata, “Ibadah apapun yang dikerjakan dan diberikan pahalanya kepada seorang mayit muslim maka pahala itu akan bermanfaat baginya insyaallah.” Ia juga berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa jika dibacakan Alquran pada mayit, atau ia diberi hadiah pahala bacaannya, maka pahala itu adalah untuk orang yang membacanya, sedangkan orang yang meninggal bagaikan menghadiri pembacaan itu sehingga diharapkan mendapatkan rahmat dari Allah karenanya. Dalil kami adalah apa yang kami telah sebutkan dan bahwa masalah ini adalah masalah yang telah disepakati (ijmak) oleh kaum muslimin. Hal itu karena mereka pada setiap masa dan tempat selalu berkumpul dan membaca Alquran serta menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang meninggal di antara mereka, tanpa ada satu orang pun yang mengingkarinya.”

Ijmak tentang hal ini juga dinukil oleh Syaikh al-Utsmani dalam kitabnyaRahmatul Ummah Fikhtilâfil Aimmah. Beliau mengatakan, “Para ulama berijmak bahwa istighfar, doa, sedekah, ibadah haji dan memerdekakan budak dapat bermanfaat bagi orang yang meninggal dan pahalanya akan sampai kepadanya. Dan membaca Alquran di atas kubur adalah hal yang dianjurkan.”

Pendapat para ulama mengenai sampainya pahala bacaan kepada mayit berpegang pada kebolehan melakukan ibadah haji untuk mayit dan sampainya pahala haji itu kepadanya. Hal itu karena ibadah haji tercakup di dalamnya amalan shalat yang mencakup bacaan suratal-Fatihah dan ayat-ayat lainnya. Dan sesuatu yang sampai seluruhnya maka akan sampai pula sebagiannya. Oleh karena itu, berdasarkan pendapat jumhur ulama, pahala bacaan Alquran akan sampai kepada mayit jika orang yang membacanya meniatkan hal itu.

Paraulama Syafi’iyah berpendapat bahwa pahala itu akan sampai sebagaimana sampainya doa, yaitu jika seseorang berkata dalam doanya, “Ya Allah, berikanlah pahala seperti pahala apa yang saya baca kepada Fulan.” Sehingga, ia bukan menghadiahkan amalan itu sendiri. Perbedaan ulama dalam masalah ini tidaklah berat dan tidak selayaknya terdapat perselisihan dalam masalah ini.

 

Menulislah Dari Sekarang Sebelum Terlambat

uneg unek ini hanya sekedar ungkapan hati kecil, tatkala kujumpai mereka yang gemar menulis memiliki ketajaman pemikiran dan daya kritis yang lebih dari mereka yang tak pernah menulis, penulis selalu bisa menjadi penceramah, sementara penceramah belum tentu bisa menulis.

menulislah dari sekarang sebelum terlambat.