BAB I, APAKAH TAHLILAN BID’AH?

Saudara- saudara kita berpendapat bahwasanya segala amalan baru yang berkaitan dengan ibadah, dan belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah S.A.W serta para Sahabat adalah Bid’ah. Tak terkecuali Tahlilan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

 

Pernyataan saudara saudara kita diatas berlandaskan 3 Hadits Rasulullah.dibawah ini:

 

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال : قال رسول الله صل الله عليه وسلم: فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى محمد وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار

Dari Jabir R.A. berkata: Rasullullah S.A.W. bersabda : sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk buruk perkara adalah yang diada adakan, dan segala perkara yang diada adakan adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya dineraka.(H.R.Muslim)

Shohih Imam Bukhori no 2697, Shohih Muslim no 1718.

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara kami dan perkara tersebut tidak berasal dari  agama kami maka perkara tersebut tertolak (H.R Bukhori)

 

Imam Muslim meriwayatkan dalam sunannya Hadits no 1719 dengan lafadz:

 

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan  yang tidak terdapat didalam perkara kami (agama kami), maka ia (perkara tersebut) tertolak

 

JAWABAN KAMI:

 

Dari ketiga Hadits diatas saudara saudara kita berpendapat bahwa semua hal baru dalam Agama yang tidak pernah diperintahkan Rasulullah S.A.W adalah sesat,  karena mereka menafsiri kata “amr” dalam hadits من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد, sebagai “perintah” maka makna hadits diatas menurut saudara saudara kita adalah: “barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak” karena mereka menafsiri demikian maka produk fatwa mereka adalah: amalan amalan yang tidak pernah diperintahkan Allah dan Rasulullah adalah Bid’ah sesat, meskipun amalan baru tersebut membawa maslahat umat. Sementara kami menafsiri kata “amr” dalam hadits diatas sebagai “perkara” karena memang Hadits- hadits yang berkaitan dengan hadits diatas, kata “amr” didalamnya bermakna “perkara” sebagaimana pembahasan yang akan kita kupas dibawah, maka tafsiran menurut kami adalah: perkara perkara yang tidak terdapat dalam Syariat Islam dan perkara tersebut bertentangan dengan Syariat Islam perkara tersebut adalah Bid’ah sesat. Adapun perkara perkara yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam tidak termasuk kedalam Bid’ah yang sesat.

 

Apakah bukti bahwa yang dimaksud dengan Bid’ah seperti apa yang kami tafsiri dan bukan seperti apa yang mereka tafsirkan?

  • Dalam kitab Shohih Bukhori, Hadits no : 2696 menceritakan seorang sahabat datang kepada Rasulullah S.A.W meminta pengadilan dari beliau terhadap anaknya yang belum menikah telah berzina dengan istri tetangganya, para tetangga dari anak yang berzina tadi berkata bahwa hukuman bagi anaknya adalah dirajam, kemudian orang tuanya menebus hukuman rajam tersebut dengan 100 ekor kambing dan para tetangga menerima tebusan itu. Akan tetapi Rasulullah menghakimi anak tersebut dengan hukuman cambuk dan diasingkan setahun tidak seperti apa yang dikatakan tetangganya, sementara bagi istri tetangganya tadi adalah hukuman rajam karena memang dalam Islam seperti itu hukumanya, Kemudian di hadits berikutnya atau Hadits no 2697 Rasululllah S.A.W bersabda: “Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara kami dan perkara tersebut tidak berasal dari  agama kami maka perkara tersebut tertolak”  dalam konteks ini para tetangga yang mengatakan hukuman bagi si anak adalah dirajam akan tetapi boleh diganti dengan tebusan 100 ekor kambing jelas bertentangan dengan hukum Islam, karena hukuman sebenarnya bagi si anak adalah di cambuk bukannya dirajam, dan juga hukuman rajam tidak boleh diganti dengan 100 ekor kambing

 

Pernyataan bahwa Nabi SAW atau para sahabat tidak melakukan ini dan itu adalah benar. Akan tetapi pernyataan bahwa semua yang tidak dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi dan sahabat itu sesat adalah sebuah Istimbath (penyimpulan hukum) yang perlu diluruskan, Dalam mengambil Istimbath (penyimpulan hukum), kita harus saling mengaitkan antara Hadits satu dengan Hadits yang lain sehingga bisa diketahui hukum suatu perkara dengan jelas.

 

Jumhurul Ulama’ (Imam Nawawi Fathul Mun’im juz 4 hal 98), Imam Izz bin Abdus Salam Qowaid Ahkam Li Izz bin Abdus Salam juz 2 hal 172) Doctor Muhammad Bakr Ismail ( Qowaid fiqhiyyah bainal Asholah Wat Taujih, hal 378 terbitan Darul Manar 1997) berpendapat bahwa Bid’ah terbagi menjadilima

 

  1. Bid’ah Wajib : Seperti belajar Ilmu Nahwu, yang digunakan untuk memahami Al Qur’an dan Hadits, karena memahami Al Qur’an dan Hadits adalah wajib untuk menjaga syariat, dan segala perkara wajib jika tidak bisa terlaksana oleh suatu perkara, maka perkara itu juga wajib.
  2. Bid’ah Haram : Adalah Bid’ah yang bertentangan dengan syariat islam, Seperti ramalan nasib, karena ramalan nasib membuka pintu pintu syubhat dan syirik kepada Allah, dan ini jelas bertentangan dengan Syariat Islam
  3. Bid’ah Mandub / Sunnah : Seperti membangun sekolah untuk mempermudah menuntut ilmu, dan juga Shalat Tarawih berjama’ah
  4. Bid’ah Makruh : Seperti menghias masjid dengan hiasan yang berlebihan.
  5. Bid’ah Mubah  : Seperti makan dan minum yang enak enak. Dan memakai pakaian dan sandang yang bagus

 

Sementara itu, Ibnu Atsir berpendapat dalam kitabnya An Nihayah membagi Bid’ah menjadi dua, yaitu Bid’ah huda (baik) dan Bid’ah sesat

 

Ulama’- ulama’ kami yang mengklasifikasikan Bid’ah menjadi Bid’ah terpuji dan tercela bersandarkan Dalil berikut:

 

1. Perkataan Umar R.A. tentang Shalat Tarawih berjama’ah di masjid dalam bulan Ramadhan yang berbunyi : “inilah sebaik baik Bid’ah”

 

روي عن عبد الرحمان بن عبد القارئ أنه قال: خرجت مع عمر ابن خطاب رضي الله عنه  ليلة فى رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلى رجل لنفسه, ويصلى الرجل فيصلى بصلاة الرهط. فقال عمر إن أرا لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل, ثم عزم, فجمعهم على أبى بن كعب, ثم خرجت معه ليلة أخرى, والناس يصلون بصلات قارئهم, قال عمر نعم البدعة هذه, والتى ينامون عنها أفضل عن الذى يقومون. يريد أخر اليل. وكان الناس يقومون أوله

 

Diriwayatkan dari Abdurrahman Bin Abdul Qari’ sesungguhnya dia berkata: suatu malam dibulan Ramadhan saya keluar bersama Umar Bin Khottob R.A. ke masjid, dan orang orang terpencar terpisah pisah, laki laki sholat sendiri, dan ada seorang laki laki sholat “roht”. Maka umar berkata: saya berpendapat kalau sholat mereka saya kumpulkan dalam satu imam maka sekirannya akan lebih efektif, kemudian dia berazam, dan mengumpulkan mereka sholat diimami oleh Ubay Bin Ka’ab, kemudian saya keluar bersamanya (umar) dimalam yang lain dan orang- orang sholat dalam satu Imam, berkata umar : inilah sebaik baik Bid’ah

 

Saudara saudara kita yang menolak pembagian Bid’ah membantah bahwa sholat Terawih berjama’ah bukanlah Bid’ah karena Rasulullah pernah melaksanakannya dengan sahabat, akan tetapi meninggalkannya karena takut nantinya sholat Tarawih berjama’ah dihukumi wajib. Maka sholat tarawih berjama’ah bukanlah perkara yang diadakan umar, karena Rasulullah pernah mengerjakannya kemudian meninggalkannya, Jadi perkataan umar diatas tidaklah menjelaskan bahwa sholat Tarawih berjama’ah adalah Bid’ah yang baik.

 

Jawaban kami: yang dimaksud  Umar R.A dengan perkataannya “inilah sebaik baik Bid’ah” bukan terletak pada sholat Tarawih berjama’ah, akan tetapi terletak pada: memelihara sholat Tarawih berjama’ah setiap malam Ramadhan, sementara Rasulullah hanya sholat beberapa malam saja, dan sisanya orang orang melaksanakan sholat Tarawih dengan sendiri sendiri di masjid seperti jelas apa yang dikisahkan dalam atsar diatas. Maka sholat Tarawih setiap malam Ramadhan dengan berjama’ah yang diadakan oleh umar, dan belum pernah dilaksanakan dizaman Rasulullah, ini dihukumi Umar sebagai Bid’ah yang terpuji/ Bid’ah Hasanah

 

 

2.  Hadits Nabi S.A.W. yang berbunyi :

قال رسول الله صل الله عليه و سلم : من سن سنة حسنة فعليه أجرها و أجر من عمل بها إلى يوم القيامة, ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بهاإلى يوم القيامة

Rasulullah S.A.W bersabda: barang siapa yang mensunahkan suatu sunnah yang baik, maka dia mendapat imbalannya dan imbalan orang orang yang mengerjakannya sampai hari Qiyamat, dan barang siapa yang mensunahkan suatu sunnah yang jelek, maka dia mendapat dosanya dan dosa orang orang yang mengerjakannya sampai hari kiyamat.

 

Dari atsar Umar Bin Khattab dan hadits Rasulullah S.A.W,  ditarik kesimpulan oleh Imam Izz Bin Abdussalam dan Imam Nawawi bahwa Bid’ah yang dilarang oleh Rasulullah adalah Bid’ah yang bertentangan dengan Syariat Islam, Adapun Rasulullah mengatakan “semua Bid’ah sesat “ hal itu dikarenakan disaat itu kaum muslimin gemar mengadakan suatu hal baru yang bertentangan dengan Syariat Islam kemudian mengklaim bahwa hal baru yang diadakannya adalah bagian dari Syariat Islam. Pendapat ini juga dibenarkan oleh Dr. Muhammad Bakr Ismail dalam kitab Qowaid Fiqhiyah, terbitan Darul Manar hal 378

 

Kalimat ما ليس منه   dan ليس عليه أمرنا  (tidak terdapat dalam perkara kami) ditafsiri oleh Imam Nawawi dalam Fathul Bari (juz 6 halaman 580 cetakan Darut Taybah) sebagai perkara baru dalam agama yang bertentangan dengan Syariat Islam, berkata Imam Nawawi :” seyogyanya hadits ini digunakan dan dipegang teguh serta menggunakannya untuk menolak kemungkaran yang sering digunakan sebagai dalil kemudian Imam Nawawi menjelaskan hal hal yang tidak termasuk dalam perkara agama, semisal ada orang menyatakan bahwasanya berwudhu dengan air najis adalah boleh, maka hal ini tidak dianggap (tertolak) , karena berwudhu dengan air najis jelas bertentangan dengan syariat islam, namun jika seseorang berkata bahwa niat adalah bagian dari wudhu, maka hal ini dianggap sah, karena memang niat bagian dari Syariat Islam.

 

Jelas sudah bahwa perkara yang dimaksud dalam Hadits diatas adalah perkara baru yang bertentangan dengan Syariat Islam, sementara dalam Tahlilan tidak ada perkara yang bertentangan dengan Syariat Islam, justru di dalamnya terdapat nilai- nilai dan nafas Islami, seperti berzikir, membaca Al Qur’an, dan Shodaqoh. Lain halnya jika Tahlilan berisi bakar menyan, baca mantara dan lain lain kemudian diklaim sebagai bagian Syariat Islam maka barulah amalan seperti ini bertentangan dengan Syariat Islam dan tidak dianggap (tertolak)

 

Saudara saudara kita yang menolak pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah hasanah dan Bid’ah dholalah berarti mengingkari pendapat Jumhurul Ulama’,  Ketika kita mengemukakan pendapat ulama, sebagian orang membantah dengan penyataan bahwa Hadits lebih utama untuk diikuti dari pendapat siapapun, Itu berarti mereka mengira bahwa pendapat Ulama tidak berdasarkan Al-Qur’an atau Hadits, padahal para mujtahid dan para ulama’ berfatwa berlandaskan Al Qur’an dan Hadits.

 

Perbedaan pendapat yang paling mencolok antara mereka dan kami adalah dari sudut pandang dalam melihat Tahlilan, mereka yang mem-bid’ah-kan Tahlilan meliat Tahlilan dari segi “bungkus / paket”, sebuah ritual yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul, namun kami melihat tahlilan bukan dari “bungkus / paket”, akan tetapi “isinya”, memang “bungkusnya” tidak pernah dicontohkan oleh Rasul, namun “isinya” sungguh sangat sangat, dianjurkan,dipuji dan dicontohkan oleh Rasulullah, seperti bershodaqoh, membaca Al Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan mendoakan kaum mukminin yang masih hidup ataupun sudah meninggal.

 

Lagi yang menjadi perbeda’an antara mereka dan kami, mereka menafsiri Bid’ah sebagai hal baru dalam Agama, segala amalan ibadah baru dalam Islam kalau tidak pernah diperintahkan Nabi maka dihukumi Bid’ah / Haram, sementara kami menafsirkan istilah Bid’ah adalah suatu amalan baru dalam Islam dan bertentangan dengan Syariat Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam “Fathul Mun’im” dan Imam Izz Bin Abdussalam dalam “Qowaid Ahkam”

 

Saudara saudara kita berkilah bahwasanya semua Bid’ah adalah sesat meskipun manusia menganggapnya baik dengan atsar Abdullah Ibnu Umar yang berkata : “Setiap Bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah no.126)

 

Penjelasan kami: yang dimaksud perkataan Ibnu Umar diatas adalah Bid’ah yang bertentangan dengan syariat Islam. Meskipun manusia menganggap  baik jikalau bertentangan dengan Syariat Islam maka hukumnya sesat. Perlu diketahui bahwa dizaman Abdullah bin Umar banyak umat Islam yang mengadakan ritual ibadah baru yang bertentangan dengan Syariat Islam, kemudian mengklaim bahwa ritual ritual yang diadakannya adalah bagian dari syariat islam. Meskipun ritual ini baik namun jika bertentangan dengan Syariat Islam maka hukumnya adalah sesat. Begitulah yang dimaksud dengan ‘Atsar Abdulllah bin Umar

 

Apakah membaca Al Qur’an, bertasbih, bertahlil, dan bertahmid serta bershodaqoh makanan yang terdapat dalam Tahlilan bertentangan dengan Syariat Islam? Jikalau tidak, apakah benar jika kita memasukkan Tahlilan termasuk kedalam Bid’ah yang sesat?

 

Posted on December 7, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: