BAB VI, PERBEDAAN METODE

Dalam Bab ini akan kami bahas mengenai metode “istimbath” / penyimpulan hukum yang mereka gunakan ketika bermuamalah dengan Atsar, Hadits dan ayat Al Qur’an. Metode yang dipakai oleh saudara- saudara kita berbeda dengan metode kami, maka wajar saja jika produk fatwa mereka pun berbeda dengan kami. Perbedaan ini dapat kita simpulkan kedalam beberapa point mendasar.

  1. Mereka tidak mengenal metode- metode yang kami gunakan, seperti metode mengumpulkan antara satu dalil dengan dalil lainnya, metode ‘aam dan khoosh, metode mengumpulkan 2 Hadits yang bertentangan, dan metode- metode yang digunakan oleh Juhur Ulama’ contoh :
    1. Dalam Bab pembagian bid’ah, mereka memaknai bahwa semua bid’ah sesat karena memang teks dalilnya mengatakan semua bid’ah sesat, kemudian enggan mengkaji Hadits -Hadits yang mengindikasikan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Maka hasil fatwa mereka adalah semua bid’ah sesat. Sementara kami mengkaji dalil- dalil yang berkaitan dengan bid’ah, kemudian kami kaitkan antara dalil satu dengan dalil yang lain, dan hasilnya tidak semua bid’ah sesat.
    2. Mereka tidak mengenal dalil- dalil yang bersifat ‘aam dan khoosh, seperti pada pembahasan bab larangan berdzikir di hari ke 7-40-100-1000, maka produk fatwa mereka mengharamkan berdzikir di hari hari tersebut karena tidak ada dalil -dalil yang memerintahkannya. sementara kami melihat ke “umuman” dalil perintah berdzikir yang tidak terikat waktu, maka boleh berdzikir kapanpun dan dimanapun tak terkecuali di hari hari 7-40-100-1000
    3. Mereka tidak mengenal metode mengumpulkan 2 hadits yang bertentangan, seperti dalam pembahasan hidangan untuk mayyit, yang dimana fatwa mereka haram hidangan untuk tamu undangan dalam acara kematian. Sementara kami mengumpulkan antara Hadits yang mengharamkan hidangan dalam takziyah dan hadits yang membolehkannya, maka fatwa kami adalah : Haram menghidangkan makanan bagi para peratap dan semata mengundang orang -orang supaya berkumpul dirumahnya guna meratapi si mayyit sebagaimana adat jahiliyah, dan Sunnah menghidangkan makanan jika diniati sodaqoh dan pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit, dan mengundang untuk mendoakan si mayyit.
    4. Mereka melihat hakekat amalan bukan pada isinya, namun pada bungkusnya, sementara kami melihat hakekat amalan dari isinya, dan bukan bungkusnya. Maka perbedaan sudut pandang ini pula menjadikan perbedaan produk fatwa diantara mereka dan kami.
      1. Contoh dari perbedaan metode ini adalah amalan Tahlilan sendiri, mereka menuduh amalan ini syirik karena menyerupai agama hindu, karena selamatan 7-40-100-1000 adalah murni warisan dari agama hindu, sementara kami melihat suatu amalan dari isinya, isi dari tahlilan adalah berdzikir, membaca AL Qur’an, dan bershodaqoh makanan yang kesemuanya itu sesuai dengan nafas nafas islami.
      2. Mereka berpendapat bahwa semua hal baru dalam Agama yang tidak pernah diperintahkan Rasulullah S.A.W adalah sesat,  karena mereka menafsiri kata “amr” dalam hadits من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد, sebagai “perintah” maka makna hadits diatas menurut saudara saudara kita adalah: “barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak” dan  hasil produk fatwa mereka adalah: amalan amalan yang tidak pernah diperintahkan Allah dan Rasulullah adalah bid’ah sesat, meskipun amalan baru tersebut membawa maslahat umat.

Sementara kami menafsiri kata “amr” dalam Hadits diatas sebagai “perkara” karena memang hadits- hadits yang berkaitan dengan hadits diatas, kata “amr” didalamnya bermakna “perkara” sebagaimana pembahasan yang telah kita kupas pada bab pembagian bid’ah, maka tafsiran menurut kami adalah: perkara perkara yang tidak terdapat dalam Syariat Islam dan perkara tersebut bertentangan dengan Syariat Islam, perkara tersebut adalah bid’ah sesat. Adapun perkara perkara yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam tidak termasuk kedalam bid’ah yang sesat

  1. Mereka melupakan kaidah ilmu fiqih yang berbunyi “sebuah ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad yang lainnya”  atau kata lainnya adalah: “sebuah kesimpulan hukum yang disarikan dari Al Qur’an dan Hadits, tidak bisa membatalkan kesimpulan hukum lain yang disarikan dari Al Qur’an dan Hadits juga,  sebuah kaidah yang kami pegang teguh dalam menghargai perbedaan pendapat. Karena tidak mengenal kaidah kami Maka produk fatwa mereka adalah “semua yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka adalah pemahaman salah,  menyimpang, dan perlu diluruskan, jika perlu diperangi” sementara kami tidak pernah menuduh kelompok yang berbeda pemahaman dengan kami sebagai kelompok sesat selama mereka mengamalkan rukun Islam, rukun Iman, dan tidak saling mengkafirkan sesame muslim.

Demikin buku kecil ini semoga mampu memberi wawasan kepada sahabat sahabatku sekaian, dan supaya kita tidak pernah terjebak dalam sikap bodoh saling mensyirikkan, saling mengkafirkan sesama muslim, jika umat muslim disibukkan dengan ini maka tunggu saja waktu dimana umat yang tidak berTuhan mengobrak abrik umat yang berTuhan kepada Allah tanpa ikut campur didalamnya. Mari kita tunjukkan bahwa umat yang bertuhan kepada Allah lebih cerdas daripada mereka yang tidak berTuhan.

 

Posted on December 7, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: