MUQADDIMAH BAB TAHLILAN DAN YASINAN.

Keberagaman bermadzhab dalam Islam nampaknya dimanfaatkan oleh orang- orang yang ingin menghancurkan Islam dari dalam sebagai senjata yang ampuh, politik adu dombapun tengah mendera umat Islam bertubi- tubi, satu kelompok yang berbeda pemahaman menyerang, mengkafirkan dan mensyirikkan suatu kelompok yang tidak sesuai dengan madzhab mereka, sementara kelompok yang diserang “terpaksa membela diri” dari serangan kelompok pertama guna menjaga dan melestarikan pemahaman mereka yang luhur. Maka umat Islam saat ini disibukkan dengan kegiatan “menyerang” dan “membela diri” dari sesama muslim. sementara kepentingan yang jauh lebih penting dari itu terbengkalai, tertinggal sangat jauh dari bangsa- bangsa kafir yang bahkan Tuhanpun tidak mereka kenal, jika terus terusan umat Islam seperti ini mudah diadu domba dan dipecah belah. Maka keruntuhan dan kehancuran Islam tinggal menunggu waktu.

 

Penulis sangat prihatin menyaksikan peperangan sesama umat Islam, peperangan antar orang orang yang bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka dan Muhammad adalah utusanNya, kenapa seakan- akan umat ini terlihat begitu fanatik dengan madzhab yang dianutnya? Sebagian besar dari saudara- saudara kita menganggap bahwa memerangi dan mensyirikkan kelompok lain yang tidak sesuai dengan pemahamannya adalah perkara mulia nan agung, berada dijalan tersebut adalah jihad, dan Surga menanti sebagai Hadiah yang dijanjikan. Sementara kemajuan Umat Islam dibidang Iptek, Ekonomi, Ideologi, dan bidang- bidang yang lain adalah perkara nomor kesekian yang seakan- akan janji Surga tidak berlaku diatas jalan ini.

 

Dalam buku ini penulis mencoba memaparkan duduk perkara ritual yang telah menjadi pro dan kontra abadi antar umat Islam di Indonesia, sebuah kegiatan yang konon warisan dari zaman kerajaan Hindu yang di Islamisasi, yaitu acara Tahlilan, Yasinan, dan Selamatan, acara yang mengundang  perdebatan panjang yang seakan tiada akhir, dalam buku ini penulis memaparkan kedua dalil yang digunakan kedua belah pihak, alasan- alasan pembenaran dikomparasikan dengan alasan alasan pensyirikan, dikaji dengan bahasa yang lugas nan jelas, kemudian disimpulkan dengan kesimpulan yang mudah dipahami, semoga dengan adanya buku ini mampu membuka wawasan bagi saudara saudara kita yang “menyerang”, bahwa apa yang mereka lakukan tidak selayaknya terjadi, karena pendapat kami juga berlandaskan Al Qur’an dan Hadits, dan juga bagi sobat sobatku yang “diserang” semoga menjadi tambahan wawasan khazanah ilmu pengetahuan, cerita bagi anak didik kita bahwa warisan Wali Songo yang sangat unik ini selayaknya dilestarikan.

 

Dengan membahas salah satu Tema perdebatan umat Islam diIndonesiayaitu Tahlilan, Penulis berharap kepada kita semua sebagai umat Islam agar tidak selayaknya hidup dalam permusuhan, saling menghargai pendapat wajib menjadi sifat umat Islam generasi sekarang. Dan hobi mengkafirkan, mensyirikkan sesama muslim selayaknya dibumihanguskan, kebangkitan umat Islam tidak akan pernah tercapai jikalau persatuan umat Islam tidak terwujud, bagi saudara saudaraku yang “menyerang” berhentilah menyerang kami, dan bagi Sobat sobatku yang “diserang” mari kita gandeng tangan saudara- saudara kita yang “menyerang” supaya kita bisa menunjukkan kepada dunia bahwa umat yang percaya kepada Allah jauh lebih cerdas dari mereka yang tidak berTuhan.

 

Kairo, 9 Juli 2011.

 

 

 

Ahmad Budi Ahda Lc.

Posted on December 7, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: